digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Irda Naila Eliska
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Transportasi umum seharusnya dapat diakses secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk Teman Tuli yang menghadapi hambatan informasional dan komunikasional dalam sistem yang dirancang dengan asumsi seluruh penggunanya dapat mendengar. Di tengah pesatnya digitalisasi layanan transportasi di DKI Jakarta, sejauh mana transformasi digital tersebut berpihak pada kebutuhan Teman Tuli masih belum terjawab. Penelitian ini menganalisis karakteristik mobilitas, persepsi aksesibilitas, dan preferensi pemilihan moda transportasi umum oleh Teman Tuli pada era digitalisasi di DKI Jakarta, melibatkan 31 responden dari komunitas Gerkatin dan Sunyi Cafe melalui pendekatan kuantitatif yang didukung Focus Group Discussion dan observasi terarah. Temuan menunjukkan Teman Tuli adalah pengguna transportasi umum yang aktif namun menanggung biaya adaptasi tinggi karena sistem tidak dirancang untuk mereka: seluruh responden mengandalkan smartphone dan mayoritas menggunakan aplikasi navigasi sebagai pengganti informasi audio yang tidak dapat mereka akses. Persepsi aksesibilitas terbentuk dari empat dimensi utama yang seluruhnya mencerminkan ketidakpuasan konsisten terhadap informasi visual dinamis. Secara substantif, preferensi pemilihan moda Teman Tuli ditentukan bukan oleh efisiensi waktu atau tarif, melainkan oleh ketersediaan informasi keselamatan visual, kemampuan komunikasi petugas, dan aksesibilitas informasi visual selama perjalanan, menegaskan bahwa inklusivitas transportasi bagi Teman Tuli adalah soal kesetaraan akses informasi, bukan infrastruktur fisik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian aksesibilitas transportasi inklusif di Indonesia dengan menghadirkan perspektif Teman Tuli yang selama ini tidak terwakili dalam literatur transportasi perkotaan Indonesia.