digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Samuel Valentino
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

TUGAS AKHIR Samuel Valentino
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Gempa Bengkulu Mw 6,4 tanggal 13 Agustus 2017 merupakan gempa dengan mekanisme dominan sesar naik pada zona subduksi Sumatra. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi co-seismic displacement dan distribusi co-seismic slip berdasarkan data GNSS pada bidang nodal NP2 (strike 129°, dip 60°, dan rake 88°), mengevaluasi kecocokan model sumber, serta menganalisis redistribusi Coulomb Failure Stress (?CFF) dan hubungan spasialnya dengan distribusi aftershock. Data GNSS dari enam stasiun, yaitu CBKL, LAIS, LNNG, MKMK, MNNA, dan PRKB, dianalisis selama lima hari sebelum hingga lima hari setelah gempa. Co-seismic displacement dihitung dari selisih rata-rata posisi stasiun sebelum dan setelah gempa dan digunakan sebagai input inversi menggunakan SDM08. Kecocokan model dievaluasi menggunakan Root Mean Square Error (RMSE) antara displacement observasi dan hasil model serta magnitudo momen, sedangkan pemodelan ?CFF dilakukan menggunakan Coulomb 3.3 pada model sumber yang dipilih berdasarkan hasil evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan displacement horizontal terbesar sebesar sekitar 5,30 mm pada stasiun LAIS dan terkecil sebesar sekitar 1,05 mm pada stasiun MNNA. Inversi pada NP2 menghasilkan distribusi slip yang tidak seragam dengan slip rata-rata sekitar 0,0294 m dan slip maksimum sebesar 0,0433 m. Model NP2 menghasilkan magnitudo momen Mw 6,6129 dengan RMSE komponen Northing sebesar 1,396 mm, Easting sebesar 1,319 mm, vertikal sebesar 8,241 mm, dan RMSE gabungan sebesar 4,885 mm. Pemodelan ?CFF menunjukkan adanya zona peningkatan dan penurunan tegangan di sekitar sumber gempa yang bervariasi secara lateral maupun terhadap kedalaman. Overlay aftershock menunjukkan bahwa gempa susulan tidak seluruhnya berada pada zona ?CFF positif, tetapi juga ditemukan pada zona negatif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ?CFF dapat menggambarkan pola redistribusi tegangan pascagempa, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mengontrol distribusi aftershock.