Digitalisasi menjadi salah satu unsur yang menjadi bagian penting untuk revolusi
dan meningkatan kualitas layanan, mulai dari analog ke digital, dengan dasar
inovasi, efisiensi kolaborasi dan produktivitas di ecosystem yang relevan
(Papadonikolaki dkk., 2025). Dalam konteks transportasi umum, inovasi
digitalisasi diterapkan sebagai upaya memberikan nilai tambah pada layanan
tersebut. Fitur-fitur ini memiliki manfaat penting, diantaranya mereduksi biaya
operasional karena peralihan dari metode manual ke metode pembayaran non-tunai,
serta optimalisasi integrasi data penumpang untuk pendukung pengambilan
keputusan bagi otoritas dan operator (Awed & Fard Fini, 2024). Namun, ada
sejumlah tantangan penting yang perlu diatasi di fase transisi hingga implementasi.
Tantangan-tantangan tersebut mencakup implementasi digitalisasi yang masih
terfragmentasi (siloed) di antara operator serta pengguna transportasi umum,
tingginya biaya investasi untuk pembangunan infrastruktur digital, serta tantangan
sumber daya manusia. Disisi lain, berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi
ekspektasi pengguna terkait inovasi teknologi yang terus muncul, salah satunya
pada program uji coba Account Based Ticketing di wilayah metropolitan Jakarta.
Menilik prinsip SDGs "tidak ada seorang pun yang tertinggal" (no one left behind),
semestinya langkah konkret dilakukan dalam mengantisipasi tantangan tersebut.
Menyekat kesenjangan adopsi digitalisasi menjadi agenda penting. Digitalisasi
beserta kesuksesannya menjadi penting sebagai langkah mendorong pengguna
mobil pribadi beralih ke transportasi umum yang lebih efisien karena meningkatnya
kenyamanan, sekaligus menjadi faktor kunci untuk mewujudkan penurunan emisi
(UNFCCC, 2015).
Perpustakaan Digital ITB