digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Hulu Sungai Citarum berperan penting dalam menjaga kualitas air di bagian hilir, namun kondisi vegetasi riparian di kawasan ini bervariasi akibat perbedaan tekanan pemanfaatan lahan di sekitar sempadan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi vegetasi riparian, kondisi kualitas air, dan tingkat partisipasi masyarakat, serta menganalisis keterkaitan ketiganya di hulu Sungai Citarum Km 0. Penelitian dilakukan dengan pendekatan observasional dan bersifat mixed methods pada tiga stasiun pengamatan, yaitu Cikoleberes (Km 0), Wangisagara, dan Jembatan Koyod. Kondisi vegetasi dinilai menggunakan indeks Qualitat del Bosc de Ribera (QBR) dan pengukuran lebar sempadan bervegetasi (buffer width); kualitas air diuji berdasarkan parameter DO, TSS, nitrat, dan fosfat yang dibandingkan terhadap baku mutu air Lampiran VI PP No. 22 Tahun 2021; sedangkan partisipasi dan persepsi masyarakat digali melalui wawancara terhadap perwakilan masyarakat di sekitar sempadan sungai. Keterkaitan antara kondisi vegetasi dan kualitas air dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kondisi vegetasi yang tegas antarstasiun, yaitu skor QBR 85 (kategori baik) di Cikoleberes dibandingkan 35 dan 30 (kategori buruk) di Wangisagara dan Jembatan Koyod. Perbedaan ini sejalan dengan mutu air, di mana konsentrasi TSS meningkat dari 7,87 mg/L (Kelas I) di Cikoleberes menjadi 175,10 mg/L (Kelas IV) di Wangisagara, sementara parameter DO dan nitrat masih memenuhi Kelas I dan fosfat total pada kedua stasiun tergolong Kelas III. Analisis regresi antara skor QBR dan konsentrasi TSS menghasilkan koefisien korelasi r = ?0,850 dan koefisien determinasi R2 = 0,722, yang menunjukkan sekitar 72% variasi TSS berhubungan dengan perbedaan kondisi vegetasi riparian. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sempadan tergolong pasif meskipun kesadaran akan manfaat vegetasi cukup baik, sehingga direkomendasikan penguatan pengelolaan berbasis Community-Based Environmental Management (CBEM). Secara keseluruhan, vegetasi riparian berperan sebagai penyangga alami kualitas air, sedangkan masyarakat berperan sebagai penentu terjaga atau terdegradasinya penyangga tersebut. Keterkaitan yang ditemukan bersifat asosiatif dan bukan hubungan sebab-akibat mengingat jumlah stasiun yang terbatas.