Hulu Sungai Citarum berperan penting dalam menjaga kualitas air di bagian hilir, namun
kondisi vegetasi riparian di kawasan ini bervariasi akibat perbedaan tekanan pemanfaatan lahan
di sekitar sempadan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi vegetasi riparian,
kondisi kualitas air, dan tingkat partisipasi masyarakat, serta menganalisis keterkaitan
ketiganya di hulu Sungai Citarum Km 0. Penelitian dilakukan dengan pendekatan
observasional dan bersifat mixed methods pada tiga stasiun pengamatan, yaitu Cikoleberes (Km
0), Wangisagara, dan Jembatan Koyod. Kondisi vegetasi dinilai menggunakan indeks Qualitat
del Bosc de Ribera (QBR) dan pengukuran lebar sempadan bervegetasi (buffer width); kualitas
air diuji berdasarkan parameter DO, TSS, nitrat, dan fosfat yang dibandingkan terhadap baku
mutu air Lampiran VI PP No. 22 Tahun 2021; sedangkan partisipasi dan persepsi masyarakat
digali melalui wawancara terhadap perwakilan masyarakat di sekitar sempadan sungai.
Keterkaitan antara kondisi vegetasi dan kualitas air dianalisis menggunakan regresi linear
sederhana. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kondisi vegetasi yang tegas antarstasiun,
yaitu skor QBR 85 (kategori baik) di Cikoleberes dibandingkan 35 dan 30 (kategori buruk) di
Wangisagara dan Jembatan Koyod. Perbedaan ini sejalan dengan mutu air, di mana konsentrasi
TSS meningkat dari 7,87 mg/L (Kelas I) di Cikoleberes menjadi 175,10 mg/L (Kelas IV) di
Wangisagara, sementara parameter DO dan nitrat masih memenuhi Kelas I dan fosfat total pada
kedua stasiun tergolong Kelas III. Analisis regresi antara skor QBR dan konsentrasi TSS
menghasilkan koefisien korelasi r = ?0,850 dan koefisien determinasi R2 = 0,722, yang
menunjukkan sekitar 72% variasi TSS berhubungan dengan perbedaan kondisi vegetasi
riparian. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sempadan tergolong pasif meskipun
kesadaran akan manfaat vegetasi cukup baik, sehingga direkomendasikan penguatan
pengelolaan berbasis Community-Based Environmental Management (CBEM). Secara
keseluruhan, vegetasi riparian berperan sebagai penyangga alami kualitas air, sedangkan
masyarakat berperan sebagai penentu terjaga atau terdegradasinya penyangga tersebut.
Keterkaitan yang ditemukan bersifat asosiatif dan bukan hubungan sebab-akibat mengingat
jumlah stasiun yang terbatas.
Perpustakaan Digital ITB