digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Amonia merupakan emisi antropogenik yang dapat mengiritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan, serta berperan dalam pembentukan partikulat sekunder PM2,5. Di kawasan perkotaan, emisi NH3 diduga bersumber dari kendaraan bermotor, dekomposisi sampah di TPS, dan aktivitas pengolahan makanan. Penelitian ini bertujuan mengukur konsentrasi NH3 di udara ambien pada 11 titik di sekitar Kampus ITB Ganesha dan menganalisis variasi spasial serta perbedaan konsentrasi antar titik. Sampler pasif tipe tabung berbahan HDPE (panjang 35 mm, diameter dalam 11,1 mm) dengan filter stainless steel yang diimpregnasi dengan H2SO4 1% v/v dan dipaparkan secara triplikat pada setiap titik selama delapan minggu dengan penggantian sampler yang dilakukan setiap minggu. Konsentrasi ditentukan menggunakan metode indofenol dan spektrofotometri pada panjang gelombang 630 nm, sesuai SNI 19-7119.1-2005 dengan koefisien difusi yang dikoreksi terhadap temperatur dan tekanan di setiap lokasi. Hasil pengukuran menunjukkan rerata konsentrasi delapan minggu antar titik memiliki kisaran 3,85–13,97 ?g/m3.Konsentrasi tertinggi teramati di Titik 1 (ITB Press) yang ditetapkan sebagai hotspot episodik karena memuat tiga nilai konsentrasi mingguan tertinggi dari seluruh data akibat kedekatannya dengan sumber emisi episodik TPS Tamansari, sementara konsentrasi terendah teramati di Titik 6 (Gedung LAPI ITB), dengan rasio tertinggi terhadap terendah sebesar 3,6 kali. Karena data tidak terdistribusi normal (uji Shapiro-Wilk, W = 0,870; p < 0,001), perbedaan antar titik diuji dengan Kruskal-Wallis yang menghasilkan ?2 = 14,0 (df = 10; p = 0,175) dan didukung oleh hasil uji lanjut Games-Howell dan Dwass-Steel-Critchlow-Fligner yang keduanya menghasilkan p-value > 0,05 untuk seluruh 55 pasangan. Sehingga, perbedaan konsentrasi antar titik tidak signifikan secara statistik akibat tingginya variabilitas temporal di dalam masing-masing titik yang turut dipengaruhi oleh emisi insidental di sekitar lokasi sampling. Sebagai kendali mutu data, presisi antar sampler tercatat tinggi dengan rerata 92,46% (rentang rerata antar titik 90,16– 94,34%; RSD rerata 7,54%). Ketidaksignifikanan tersebut menunjukkan bahwa pada intensitas pemantauan ini keragaman temporal di dalam titik melampaui perbedaan antar titik, sehingga perancangan pemantauan amonia di kawasan dengan sumber terdifusi yang bersifat insidental perlu mendahulukan kerapatan waktu daripada kerapatan titik.