Banjir bandang mengikis lapisan topsoil dan menyingkap subsoil yang padat, miskin bahan organik, serta rentan kehilangan hara melalui pencucian. Penelitian ini menentukan suhu pirolisis optimum biochar sekam padi (RHB), menganalisis pengaruh dosis RHB terimpregnasi plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) terhadap sifat fisik dan kimia tanah pascaerosi, serta efektivitasnya menekan pencucian N, P, dan K. Sekam padi dipirolisis pada suhu 400, 500, dan 600 °C, lalu dikarakterisasi menggunakan BET-BJH dan SEM-EDS. Biochar terpilih diimpregnasi konsorsium Azotobacter sp. dan Bacillus sp. secara vakum. Uji inkubasi selama 28 hari menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dua faktor, yaitu bioaktivasi dan dosis (2, 4, dan 6% b/b), ditambah kontrol tanpa biochar, dengan dua ulangan, sedangkan uji pencucian menggunakan tujuh kolom lisimeter tanpa ulangan. Suhu 500 °C ditetapkan sebagai suhu optimum karena meskipun RHB-600 memiliki luas permukaan BET tertinggi (105,1 m²/g), sekitar 50% di antaranya disumbang mikropori yang tidak dapat diakses sel bakteri, sedangkan RHB-500 memiliki proporsi pori fungsional 86,0%. Perlakuan 6% b/b terimpregnasi PGPR memberikan perbaikan terbesar, dengan bulk density turun 35,6%, porositas naik 57,9%, water-holding capacity naik 53,3%, disertai perpindahan kelas kesuburan pada pH, C-organik, N-total, KTK, P-tersedia, dan K-tersedia. Dosis biochar menggerakkan sifat fisik tanah, sedangkan PGPR menggerakkan N-total dan P-tersedia. Pencucian nitrogen berkurang hingga 40,00%, dengan fraksi kehilangan terkecil pada perlakuan terimpregnasi PGPR (15,53% berbanding 30,24% pada kontrol). Retensi fosfor tertinggi justru dicapai biochar murni dosis 2–4% b/b, sedangkan kalium tidak menunjukkan reduksi karena berasal dari abu biochar.
Perpustakaan Digital ITB