digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Kegiatan pertambangan nikel dengan sistem tambang terbuka menghasilkan air limpasan yang membawa kromium heksavalen (Cr(VI)), logam berat yang bersifat toksik dan tergolong karsinogenik, sehingga perlu disisihkan sebelum air dibuang ke badan air penerima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik air limpasan tambang nikel serta menentukan kondisi optimum penyisihan Cr(VI) menggunakan ferro sulfat (FeSO?) dan aluminium sulfat (Al?(SO?)?). Sampel diambil secara grab sampling dari inlet kolam pengendap salah satu perusahaan tambang nikel, kemudian diolah dalam skala laboratorium melalui percobaan jar test dengan variasi dosis bahan kimia, jenis basa sebagai sumber OH? (NaOH dan Na?CO?), waktu kontak, serta ada tidaknya pre-treatment berupa sedimentasi alami selama 60 menit. Hasil karakterisasi awal menunjukkan air limpasan memiliki pH 7,8 dengan kadar Cr(VI) 1,56 mg/L dan krom total 1,969 mg/L, keduanya melampaui baku mutu Permen LH No. 9 Tahun 2006. FeSO? memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan Al?(SO?)?, dengan penyisihan Cr(VI) mencapai 91,99% pada dosis optimum 28 mg/L dan meningkat secara monoton seiring kenaikan dosis, sedangkan Al?(SO?)? hanya mencapai 78,33% dan mengalami stagnansi pada dosis di atas 24 mg/L. Pola tersebut diperkuat oleh hasil analisis FTIR yang memperlihatkan pita Cr–O pada bilangan gelombang 940 cm?¹, sehingga FeSO? diindikasikan bekerja melalui mekanisme reduksi–presipitasi membentuk Cr(OH)?, sementara Al?(SO?)? bekerja melalui adsorpsi kromat pada permukaan flok Al(OH)? tanpa mengubah bilangan oksidasi kromium. Kinetika penyisihan paling sesuai dengan model pseudo-orde-satu (k? = 0,0420 menit?¹; R² = 0,9995) dengan waktu paruh 16,5 menit dan waktu kontak optimum 60 menit. Penambahan OH? meningkatkan penyisihan menjadi 94,0% (NaOH) dan 93,2% (Na?CO?) dengan konsekuensi kenaikan massa lumpur berturut-turut sebesar 30% dan 13% terhadap kontrol, dan hanya perlakuan NaOH yang mampu memenuhi baku mutu 0,1 mg/L. Pengolahan tanpa pre-treatment justru memberikan efisiensi lebih tinggi (83,83%) dan konsumsi reagen lebih hemat (29,2 mg FeSO?/mg Cr(VI)) dibandingkan iv dengan pre-treatment (72,02%; 43,3 mg/mg), karena partikel mineral tersuspensi berperan sebagai situs adsorpsi alami sekaligus katalis permukaan bagi reaksi reduksi Cr(VI) oleh Fe(II).