digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan hepatitis B virus (HBV) masih menjadi tantangan kesehatan dunia dengan sekitar 40,8 juta orang terinfeksi HIV dan 8-10% mengalami koinfeksi HBV. Berdasarkan pedoman WHO 2024, regimen antiretroviral seperti tenofovir, lamivudine dan emtricitabine direkomendasikan sebagai terapi karena memiliki aktivitas menekan HIV maupun HBV. Namun, supresi HIV tidak selalu mencerminkan keberhasilan supresi HBV selama terapi, sehingga diperlukan evaluasi melalui pemeriksaan HBV-DNA serta identifikasi mutasi HBV. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi mutasi dan resistensi obat HBV pada pasien koinfeksi HIV-HBV yang menerima antiretroviral therapy (ART) di RSUP dr. Hasan Sadikin. Sampel plasma didapatkan dari pasien HIV berusia ?18 tahun, memiliki riwayat HBsAg reaktif dan mengikuti ART ?6 bulan. Sampel digunakan untuk uji kuantifikasi HBV-DNA dan HIV-RNA menggunakan qPCR. Sampel dengan HBV-DNA ?10? kopi/mL dan pita DNA terlihat jelas pada elektroforesis, dilakukan sekuensing pada daerah DNA polimerase HBV. Hasil sekuensing selanjutnya dianalisis menggunakan HBVseq dan Geno2pheno[hbv]. Pada penelitian ini didapatkan 39 pasien HIV yang reaktif terhadap pengujian HBsAg. Seluruh pasien menerima ART berbasis lamivudine, dengan kombinasi tenofovir-lamivudine diterima 94,9% pasien serta kombinasi zidovudine-lamivudine diterima 5,1% pasien. Komponen ketiga dalam regimen meliputi dolutegravir diberikan kepada 56,4% pasien dan efavirenz kepada 43,6% pasien. Hasil qPCR menunjukkan sebanyak 17,9% pasien tidak terdeteksi HBV-DNA; 58,9% memiliki HBV-DNA <10? kopi/mL dan 23,1% memiliki nilai HBV-DNA ?10? kopi/mL. Pasien dengan HBV-DNA terdeteksi menunjukkan hasil uji HIV-RNA negatif. Penggunaan ART berbasis INSTI (dolutegravir) lebih banyak ditemukan pada pasien dengan HBV-DNA terdeteksi dibandingkan pasien dengan HBV-DNA tidak terdeteksi (nilai p<0,05). Pasien dengan HBV-DNA ?10? kopi/mL menunjukkan kadar alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) lebih tinggi signifikan, jika dibandingkan dengan dua kelompok pasien lainnya (nilai p<0,05). Analisis sekuensing dari kedua sampel pasien dengan HBV-DNA bernilai 109.884.119 kopi/mL pada Pasien_29 dan HBV-DNA sebesar 20.854.276 kopi/ mL pada Pasien_13 menunjukkan bahwa keduanya teridentifikasi HBV subtipe B3 dan memiliki pola mutasi L180M dan M204V pada daerah polimerase yang berkorelasi dengan resistensi lamivudine. Selain itu, ditemukan mutasi pada gen pengkode hepatitis B surface antigen pada kedua sampel yaitu Pasien_29 (A5S, I195M, M213I) dan Pasien_13 (T45IT, C76CW, I195M, M213I) yang keduanya menerima regimen ART mencakup zidovudine/ lamivudine+dolutegravir (ZDV/3TC+DTG). Hasil ini menunjukkan pentingnya pemantauan respons terapi HBV pada pasien koinfeksi HIV-HBV, termasuk pemeriksaan HBV-DNA dan identifikasi mutasi yang berpotensi menyebabkan resistensi obat maupun immune escape.