Perpindahan karkas pascakematian dapat memengaruhi pola kolonisasi serangga forensik dan durasi dekomposisi karena setiap lingkungan memiliki karakteristik ekologi yang berbeda. Perbedaan tersebut ditentukan oleh faktor biotik seperti serangga yang dijumpai pada karkas dan abiotik, seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan pH tanah. Oleh karena itu, investigasi terhadap kondisi lokasi peristiwa kematian dapat dilakukan melalui identifikasi jenis serangga forensik yang ditemukan pada karkas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan lokasi dekomposisi karkas kelinci terhadap durasi pembusukan dan struktur komunitas serangga forensik menggunakan pendekatan morfologi serangga ordo diptera dan coleoptera, serta DNA metabarcoding ordo diptera. Kedua analisis dilakukan terhadap serangga forensik yang dikoleksi dari karkas kelinci yang terdekomposisi di area kampus, hutan, dan sungai, pasca kematian di area kampus. Analisis morfologi dilakukan pada imago menggunakan mikroskop stereo dan mengacu pada referensi ilmiah, sedangkan analisis molekuler dilakukan terhadap larva serangga forensik (ordo diptera) melalui pendekatan DNA metabarcoding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dekomposisi berlangsung 66 jam lebih cepat di area kampus dibandingkan hutan dan sungai. Dekomposisi karkas di kampus berlangsung selama 240 jam, sedangkan hutan dan sungai berlangsung selama 306 jam. Berdasarkan analisis morfologi, terdapat empat spesies serangga dari ordo diptera dengan spesies yang mendominasi adalah Chrysomya megacephala dan dua spesies dari ordo coleoptera. Hasil analisis morfologi imago dan DNA metabarcoding larva dari ordo diptera menunjukkan perbedaan pola dominansi dan keanekaragaman. Analisis morfologi imago mengidentifikasi Chrysomya megacephala sebagai spesies dominan, sedangkan analisis DNA metabarcoding larva menunjukkan dominasi Hemipyrellia ligurriens. Selain itu, analisis DNA metabarcoding mengungkapkan keanekaragaman diptera yang lebih tinggi dibandingkan analisis morfologi yang diduga disebabkan oleh imago yang telah meninggalkan karkas pada fase dekomposisi lanjut. Selain itu, pada setiap lokasi didapatkan serangga oportunis dari ordo hymnoptera, yaitu Oecophylla smaragdina, Camponotus singularis,
Polyrhachis illaudata, dan Anoplolepis gracilipes. Analisis kelimpahan serangga forensik (diptera) menunjukkan bahwa rarefaction curve menggambarkan variasi richness spesies tertinggi pada lokasi sungai (S1, S2, S3), diikuti kampus (K1, K2, K3) dan terendah di hutan (H1, H2, H3). Pendekatan Principal Coordinate Analysis (PCoA) berbasis indeks Bray-Curtis mendukung perbedaan komposisi komunitas serangga forensik di tiga lokasi secara terpisah. Analisis beta diversity menggunakan indeks Bray-Curtis menunjukkan bahwa komunitas serangga antar lokasi memiliki tingkat perbedaan sangat tinggi (indeks = 1) yang mengindikasikan komposisi serangga sangat dipengaruhi kondisi ekosistem lokal, sedangkan ulangan teknis dalam lokasi yang sama memiliki perbedaan sedang hingga tinggi (0,816) karena variasi spesies pada taxa minor. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga forensik berbeda antar lokasi yang dipengaruhi oleh parameter microclimate (suhu, pH, kelembaban, dan kecepatan angin). Perbedaan komposisi komunitas dan durasi dekomposisi dapat menjadi referensi dasar untuk mendeteksi perpindahan karkas pasca kematian dalam investigasi serangga forensik di lingkungan tropis dengan karakteristik habitat yang serupa.
Perpustakaan Digital ITB