digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Muhammad Khairul Suryonegoro
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Koridor Jalan Cibaduyut merupakan sentra industri sepatu yang berkembang sebagai pusat produksi, perdagangan, dan wisata belanja di Kota Bandung, namun dalam satu dekade terakhir mengalami transformasi yang ditandai oleh berkurangnya dominasi industri dan perdagangan sepatu serta berkembangnya berbagai aktivitas komersial baru. Meskipun perubahan tersebut menunjukkan adanya transformasi koridor komersial, belum diketahui bagaimana proses transformasi kawasan berlangsung dan sejauh mana perubahan tersebut memiliki karakteristik yang sejalan dengan konsep gentrifikasi komersial. Penelitian ini menggunakan perspektif spasiotemporal melalui interpretasi citra historis Google Earth, Historical Google Street View, dan observasi lapangan terhadap 530 unit bangunan selama delapan periode pengamatan, yakni pada 2015–2026. Temuan menunjukkan bahwa perubahan fungsi bangunan lebih dominan dibandingkan perubahan guna lahan yang terbagi ke dalam empat fase transformasi dengan mekanisme transformasi umumnya berlangsung melalui alur industri dan perdagangan sepatu berubah ke bangunan kosong dan kemudian berubah ke aktivitas komersial baru. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa perubahan tersebut memiliki karakteristik yang sejalan dengan restrukturisasi tipologi modal ritel, perubahan komposisi usaha, dinamika perpindahan melalui adaptasi bangunan, dan transformasi koridor yang berlangsung secara bertahap. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan spasiotemporal mampu merekonstruksi transformasi koridor komersial pada tingkat unit bangunan dan mengidentifikasi indikasi gentrifikasi komersial tanpa bergantung sepenuhnya pada data sosial-ekonomi historis.