Bulan Agustus di Benua Maritim Indonesia (BMI) secara klimatologis merupakan
puncak defisit curah hujan akibat dominasi sirkulasi Monsun Australia. Namun,
pada Agustus 2025 terjadi fenomena kemarau basah dengan anomali curah hujan
yang meluas secara spasial, menampilkan pola yang berbeda dari kejadian historis
pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya anomali
pemanasan sea surface temperature (SST) di perairan Indonesia yang diduga kuat
bertindak sebagai penyuplai uap air lokal. Secara keseluruhan, kejadian anomali ini
ditengarai dipicu oleh interaksi forcing lintas skala yang kompleks, mencakup skala
dasar monsun, pengaruh iklim global, skala intraseasonal dan sinoptik, hingga
termodinamika lautan lokal dan modifikasi siklus diurnal. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi tingkat keekstreman anomali
tersebut, mengidentifikasi faktor pemicu beserta mekanisme fisis lintas skalanya,
dan mengkuantifikasi porsi kontribusi anomali SST lokal terhadap presipitasi
menggunakan pemodelan numerik Weather Research and Forecasting (WRF).
Data observasi menggunakan reanalisis ERA5, Outgoing Longwave Radiation
(OLR), dan SST satelit untuk menganalisis dinamika atmosfer dari skala dasarian
hingga diurnal. Eksperimen sensitivitas pemodelan WRF dilakukan untuk
memvalidasi kontribusi termodinamika lautan terhadap presipitasi. Simulasi
dijalankan dalam Skenario Aktual (SST 2025) dan Skenario Klimatologi (SST rata
rata historis).
Hasil analisis menunjukkan bahwa kemarau basah Agustus 2025 dipicu oleh
terjadinya pelemahan monsun Australia yang bertepatan dengan fase Indian Ocean
Dipole (IOD) negatif dalam kondisi ENSO netral. Kondisi ini memicu pemanasan
SST di perairan barat Indonesia, bersamaan dengan pemanasan SST independen di
Pasifik Utara. Gangguan Gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden
Julian Oscillation (MJO) bertindak sebagai mekanisme pengangkatan. Interaksi
dinamik ini mengubah siklus diurnal lokal, menggeser puncak presipitasi ke dini
hari, dan memicu propagasi sistem konvektif dari laut ke daratan. Eksperimen WRF
mengonfirmasi bahwa tanpa suplai energi laten tambahan dari anomali SST lokal
tersebut, gangguan gelombang atmosfer tidak mampu menghasilkan curah hujan di
periode kemarau.
Perpustakaan Digital ITB