Danau halofilik merupakan ekosistem ekstrem yang berpotensi menjadi sumber mikroorganisme
dengan kemampuan adaptasi fisiologis dan molekuler yang unik, termasuk dalam menghasilkan
biosynthetic gene cluster (BGC) yang berperan dalam biosintesis metabolit sekunder bernilai
tinggi. Danau halofilik Gili Meno yang terletak di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Indonesia,
hingga saat ini belum banyak dieksplorasi dari aspek potensi mikroorganismenya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi potensi metabolit sekunder isolat G7 asal
Danau Gili Meno melalui pendekatan genome mining serta karakterisasi aktivitas biologis senyawa
metabolit sekundernya. Isolat G7 merupakan salah satu isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari
Danau Gili Meno dan ditumbuhkan pada medium Zobell Marine Agar. Pemilihan isolat G7
didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi empat isolat bakteri (G1, G5,
G6, dan G7) melalui analisis gen 16S rRNA. Identifikasi awal menunjukkan keempat isolat
termasuk ke dalam spesies yang berbeda yaitu Cytobacillus horneckiae, Bacillus foramis, Bacillus
firmus, dan Cytobacillus kochii. Namun, analisis Whole Genome Sequencing lanjutan terhadap
keempat isolat menunjukkan bahwa seluruh isolat adalah spesies yang sama yaitu Cytobacillus
horneckiae 1P01SC. Isolat G7 dipilih karena memiliki kualitas perakitan genom terbaik
dibandingkan isolat lain, ditunjukkan oleh nilai coverage tinggi, jumlah contig lebih sedikit, dan
completeness >99%. Penelitian diawali dengan perakitan genom untuk mengidentifikasi secara
akurat isolat G7. Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) menggunakan Oxford Nanopore
Technologies (ONT) GridION kemudian dirakit menggunakan Flye (v2.8.3-b1695) dan
menunjukkan bahwa isolat G7 teridentifikasi sebagai Cytobacillus horneckiae dengan ukuran
genom sebesar 5.772.037 bp dan tingkat completeness sebesar 99,35%. Genom utuh kemudian
dianalisis menggunakan pendekatan genome mining dengan antiSMASH untuk memprediksi
keberadaan dan jenis BGC. Prediksi antiSMASH mengidentifikasi sembilan klaster BGC, meliputi
terpene precursor, T3PKS, NRP-metallophore NRPS, azole-containing RiPP, terpene, NRPS,
arylpolyene, lassopeptide, dan NRPS-like. Fokus penelitian ini diarahkan pada klaster NRPmetallophore
NRPS yang memiliki kemiripan dengan klaster biosintesis siderofor tipe katekolat.
Siderofor adalah senyawa pengikat besi dengan potensi aplikasi di berbagai bidang bioteknologi
industri dan kesehatan. Karakterisasi potensi metabolit sekunder dilakukan melalui pendekatan
fungsional dengan uji aktivitas siderofor menggunakan metode Simple Double-Layer Chrome
Azurol S (SD-CAS) agar. Aktivitas siderofor ditunjukkan oleh pembentukan zona halo berwarna
oranye di sekitar koloni, yang diukur secara kuantitatif berdasarkan selisih diameter zona halo
oranye dan diameter koloni. Selain itu, pertumbuhan bakteri dipantau melalui pengukuran Optical
Density (OD) untuk mengevaluasi hubungan antara fase pertumbuhan dan produksi siderofor.
Hasil uji SD-CAS menunjukkan bahwa Cytobacillus horneckiae isolat G7 mampu menghasilkan
senyawa siderofor. Aktivitas siderofor tertinggi secara signifikan teramati pada fase pertumbuhan
stasioner, yaitu pada jam ke-22, dengan nilai rata-rata diameter zona halo oranye sebesar 0,83 ±
0,21 mm. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif antara peningkatan OD dan
pembentukan zona halo oranye, yang mengindikasikan bahwa produksi siderofor berkaitan erat
dengan regulasi fisiologis sel pada fase stasioner. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan
bahwa Cytobacillus horneckiae isolat G7 asal danau halofilik Gili Meno memiliki potensi sebagai
penghasil siderofor yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.
Perpustakaan Digital ITB