digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Papua merupakan wilayah dengan karakter curah hujan tinggi dan kompleks di Benua Maritim Indonesia yang dipengaruhi oleh interaksi laut–atmosfer tropis, topografi, serta dinamika sirkulasi regional dan global. Selain variasi musiman dan antar-tahunan, curah hujan di Papua menunjukkan indikasi perubahan pada skala antar-dekade yang bersifat tidak stasioner. Pergeseran ini diduga berkaitan dengan variabilitas dekadal di Samudra Pasifik, namun pola spasial dominan, dinamika temporal, serta mekanisme atmosfer–laut yang menyertainya belum terkuantifikasi secara sistematis. Selain itu, keterkaitan mode dominan variabilitas hujan jangka panjang dengan fenomena iklim global utama di Pasifik masih memerlukan pengujian statistik yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial dominan dan dinamika temporal variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua periode 1945–2020 serta menguji keterkaitannya dengan fenomena iklim global di Pasifik, khususnya ENSO, PDO, dan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO). Selain itu, penelitian ini menelusuri mekanisme fisik yang mendasari hubungan tersebut melalui analisis perubahan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan transport kelembapan lapisan bawah. Evaluasi tambahan dilakukan terhadap kemungkinan pengaruh lintas-basin dan aktivitas Matahari tanpa menggeser fokus utama pada dinamika Indo-Pasifik. Data curah hujan utama menggunakan reanalisis ERA5 resolusi 0,25° × 0,25° yang dibandingkan terhadap data observasi independen untuk memastikan konsistensi variabilitas temporal jangka panjang. Hasil perbandingan menunjukkan korelasi positif yang cukup kuat antara kedua dataset (r ? 0,68), sehingga data layak digunakan dalam analisis lanjutan. Sinyal antar-dekade diekstraksi menggunakan penyaringan Lanczos dengan jendela 11 tahun untuk menghilangkan komponen musiman dan antar-tahunan. Pola spasial dominan diidentifikasi melalui analisis dekomposisi ortogonal empiris, sedangkan hubungan dengan indeks iklim global dianalisis menggunakan korelasi Pearson yang telah dikoreksi terhadap autokorelasi dan diuji signifikansinya menggunakan uji t-Student. Mekanisme fisik ditelusuri melalui analisis komposit fase positif–negatif dan korelasi spasial terhadap medan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan fluks kelembapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga mode utama mampu menjelaskan sekitar 85% variansi total variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua. Mode pertama merupakan mode dominan yang menjelaskan sekitar 50% variansi dan memperlihatkan pola spasial regional yang relatif koheren di sebagian besar wilayah Papua. Mode ini memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO), dengan koefisien korelasi berkisar antara r ? ?0,50 hingga ?0,60 dan signifikan pada tingkat kepercayaan 95% setelah koreksi autokorelasi. Korelasi negatif tersebut menunjukkan bahwa fase positif IPO berkaitan dengan penurunan curah hujan Papua, sedangkan fase negatif IPO berasosiasi dengan peningkatan curah hujan. Analisis mekanisme menunjukkan bahwa fase positif IPO berkaitan dengan peningkatan tekanan permukaan laut di wilayah Papua dan pelemahan transport kelembapan zonal menuju kawasan tersebut. Kombinasi kedua kondisi ini menciptakan atmosfer yang lebih stabil, memperkuat subsiden, dan menghambat perkembangan konveksi, sehingga curah hujan cenderung menurun. Sebaliknya, respon suhu permukaan laut lokal relatif lemah dan tidak menunjukkan struktur spasial yang konsisten, sehingga pengaruh IPO terhadap hujan Papua lebih dimediasi oleh dinamika atmosfer dibandingkan pemanasan laut lokal. Mode kedua dan ketiga menunjukkan pola yang lebih terlokalisasi serta tidak memiliki keterkaitan kuat dengan indeks iklim global, yang mengindikasikan dominasi mekanisme regional dan pengaruh topografi pada variabilitas sekunder. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berfokus pada skala antar-tahunan atau menggunakan pendekatan korelasi sederhana, penelitian ini mengintegrasikan penyaringan antar-dekade, analisis spasial–temporal, pengujian statistik terkoreksi autokorelasi, serta eksplorasi mekanisme atmosfer–laut secara terpadu. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa variabilitas hujan Papua pada skala antar-dekade terutama dimediasi oleh perubahan tekanan permukaan dan transport kelembapan yang terkait dengan IPO, bukan oleh respon suhu permukaan laut lokal semata. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperjelas bentuk, kekuatan hubungan, dan mekanisme variabilitas hujan jangka panjang di wilayah maritim tropis, serta memperkuat pemahaman mengenai peran skala antar-dekade dalam sistem iklim regional. Temuan ini memperkaya khazanah klimatologi Indonesia bagian timur dan menyediakan dasar ilmiah bagi pengembangan strategi adaptasi berbasis informasi iklim jangka panjang di Papua.