Papua merupakan wilayah dengan karakter curah hujan tinggi dan kompleks di
Benua Maritim Indonesia yang dipengaruhi oleh interaksi laut–atmosfer tropis,
topografi, serta dinamika sirkulasi regional dan global. Selain variasi musiman dan
antar-tahunan, curah hujan di Papua menunjukkan indikasi perubahan pada skala
antar-dekade yang bersifat tidak stasioner. Pergeseran ini diduga berkaitan dengan
variabilitas dekadal di Samudra Pasifik, namun pola spasial dominan, dinamika
temporal, serta mekanisme atmosfer–laut yang menyertainya belum terkuantifikasi
secara sistematis. Selain itu, keterkaitan mode dominan variabilitas hujan jangka
panjang dengan fenomena iklim global utama di Pasifik masih memerlukan
pengujian statistik yang komprehensif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial dominan dan dinamika
temporal variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua periode 1945–2020 serta
menguji keterkaitannya dengan fenomena iklim global di Pasifik, khususnya
ENSO, PDO, dan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO). Selain itu, penelitian ini
menelusuri mekanisme fisik yang mendasari hubungan tersebut melalui analisis
perubahan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan transport kelembapan
lapisan bawah. Evaluasi tambahan dilakukan terhadap kemungkinan pengaruh
lintas-basin dan aktivitas Matahari tanpa menggeser fokus utama pada dinamika
Indo-Pasifik.
Data curah hujan utama menggunakan reanalisis ERA5 resolusi 0,25° × 0,25° yang
dibandingkan terhadap data observasi independen untuk memastikan konsistensi
variabilitas temporal jangka panjang. Hasil perbandingan menunjukkan korelasi
positif yang cukup kuat antara kedua dataset (r ? 0,68), sehingga data layak
digunakan dalam analisis lanjutan. Sinyal antar-dekade diekstraksi menggunakan
penyaringan Lanczos dengan jendela 11 tahun untuk menghilangkan komponen
musiman dan antar-tahunan. Pola spasial dominan diidentifikasi melalui analisis
dekomposisi ortogonal empiris, sedangkan hubungan dengan indeks iklim global
dianalisis menggunakan korelasi Pearson yang telah dikoreksi terhadap
autokorelasi dan diuji signifikansinya menggunakan uji t-Student. Mekanisme fisik
ditelusuri melalui analisis komposit fase positif–negatif dan korelasi spasial
terhadap medan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan fluks
kelembapan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga mode utama mampu menjelaskan sekitar
85% variansi total variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua. Mode pertama
merupakan mode dominan yang menjelaskan sekitar 50% variansi dan
memperlihatkan pola spasial regional yang relatif koheren di sebagian besar
wilayah Papua. Mode ini memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan
Interdecadal Pacific Oscillation (IPO), dengan koefisien korelasi berkisar antara r
? ?0,50 hingga ?0,60 dan signifikan pada tingkat kepercayaan 95% setelah koreksi
autokorelasi. Korelasi negatif tersebut menunjukkan bahwa fase positif IPO
berkaitan dengan penurunan curah hujan Papua, sedangkan fase negatif IPO
berasosiasi dengan peningkatan curah hujan.
Analisis mekanisme menunjukkan bahwa fase positif IPO berkaitan dengan
peningkatan tekanan permukaan laut di wilayah Papua dan pelemahan transport
kelembapan zonal menuju kawasan tersebut. Kombinasi kedua kondisi ini
menciptakan atmosfer yang lebih stabil, memperkuat subsiden, dan menghambat
perkembangan konveksi, sehingga curah hujan cenderung menurun. Sebaliknya,
respon suhu permukaan laut lokal relatif lemah dan tidak menunjukkan struktur
spasial yang konsisten, sehingga pengaruh IPO terhadap hujan Papua lebih
dimediasi oleh dinamika atmosfer dibandingkan pemanasan laut lokal. Mode kedua
dan ketiga menunjukkan pola yang lebih terlokalisasi serta tidak memiliki
keterkaitan kuat dengan indeks iklim global, yang mengindikasikan dominasi
mekanisme regional dan pengaruh topografi pada variabilitas sekunder.
Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berfokus pada skala
antar-tahunan atau menggunakan pendekatan korelasi sederhana, penelitian ini
mengintegrasikan penyaringan antar-dekade, analisis spasial–temporal, pengujian
statistik terkoreksi autokorelasi, serta eksplorasi mekanisme atmosfer–laut secara
terpadu. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa variabilitas hujan
Papua pada skala antar-dekade terutama dimediasi oleh perubahan tekanan
permukaan dan transport kelembapan yang terkait dengan IPO, bukan oleh respon
suhu permukaan laut lokal semata.
Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperjelas bentuk,
kekuatan hubungan, dan mekanisme variabilitas hujan jangka panjang di wilayah
maritim tropis, serta memperkuat pemahaman mengenai peran skala antar-dekade
dalam sistem iklim regional. Temuan ini memperkaya khazanah klimatologi
Indonesia bagian timur dan menyediakan dasar ilmiah bagi pengembangan strategi
adaptasi berbasis informasi iklim jangka panjang di Papua.
Perpustakaan Digital ITB