digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Konsep 15-minute city berlandaskan gagasan bahwa penduduk seharusnya dapat menjangkau berbagai fasilitas esensial dalam jarak dan waktu tempuh yang dekat dari tempat tinggalnya untuk mencapai kota yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, morfologi kota dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi tingkat aksesibilitas fasilitas esensial. Namun, hubungan antara karakteristik morfologi kota dan aksesibilitas fasilitas esensial di kota-kota berkembang masih memerlukan kajian empiris yang lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara morfologi kota dan tingkat aksesibilitas fasilitas esensial berdasarkan konsep 15-minute city di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial dengan unit analisis berupa grid. Aksesibilitas diukur berdasarkan kemampuan menjangkau lima domain fasilitas esensial dalam waktu tempuh 15 menit berjalan kaki. Morfologi kota dianalisis melalui tiga dimensi utama yaitu konfigurasi jaringan jalan densitas bangunan, dan campuran fungsi lahan. Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 66,36% grid memiliki skor aksesibilitas 4 hingga 5 dan nilai median sebesar 4. Morfologi kota Jakarta didominasi oleh kawasan bertingkat rendah dan lingkungan monofungsi, sementara integrasi jaringan jalan terkonsentrasi pada sejumlah koridor utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa morfologi kota memiliki hubungan yang signifikan dengan aksesibilitas fasilitas esensial. Integrasi jaringan jalan merupakan variabel yang memiliki hubungan paling kuat dengan aksesibilitas, dengan nilai korelasi Spearman tertinggi pada integrasi global (? = 0,400). Densitas bangunan dan campuran fungsi lahan menunjukkan hubungan yang lebih lemah. Uji Kruskal-Wallis juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat aksesibilitas yang signifikan antar tipologi morfologi, meskipun ukuran efek yang diperoleh relatif kecil (?² = 0,039). Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik morfologi kota berkaitan dengan tingkat aksesibilitas fasilitas esensial dalam kerangka 15-minute city di DKI Jakarta.