ABSTRAK R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN R.R. Faza Layalia S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Konsep 15-minute city berlandaskan gagasan bahwa penduduk seharusnya dapat
menjangkau berbagai fasilitas esensial dalam jarak dan waktu tempuh yang dekat
dari tempat tinggalnya untuk mencapai kota yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam
konteks tersebut, morfologi kota dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat
memengaruhi tingkat aksesibilitas fasilitas esensial. Namun, hubungan antara
karakteristik morfologi kota dan aksesibilitas fasilitas esensial di kota-kota
berkembang masih memerlukan kajian empiris yang lebih mendalam. Penelitian ini
bertujuan menganalisis hubungan antara morfologi kota dan tingkat aksesibilitas
fasilitas esensial berdasarkan konsep 15-minute city di DKI Jakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial dengan
unit analisis berupa grid. Aksesibilitas diukur berdasarkan kemampuan menjangkau
lima domain fasilitas esensial dalam waktu tempuh 15 menit berjalan kaki.
Morfologi kota dianalisis melalui tiga dimensi utama yaitu konfigurasi jaringan
jalan densitas bangunan, dan campuran fungsi lahan. Hubungan antarvariabel
dianalisis menggunakan korelasi Spearman dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian
menunjukkan sebanyak 66,36% grid memiliki skor aksesibilitas 4 hingga 5 dan
nilai median sebesar 4. Morfologi kota Jakarta didominasi oleh kawasan bertingkat
rendah dan lingkungan monofungsi, sementara integrasi jaringan jalan
terkonsentrasi pada sejumlah koridor utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa
morfologi kota memiliki hubungan yang signifikan dengan aksesibilitas fasilitas
esensial. Integrasi jaringan jalan merupakan variabel yang memiliki hubungan
paling kuat dengan aksesibilitas, dengan nilai korelasi Spearman tertinggi pada
integrasi global (? = 0,400). Densitas bangunan dan campuran fungsi lahan
menunjukkan hubungan yang lebih lemah. Uji Kruskal-Wallis juga menunjukkan
adanya perbedaan tingkat aksesibilitas yang signifikan antar tipologi morfologi,
meskipun ukuran efek yang diperoleh relatif kecil (?² = 0,039). Penelitian ini
menyimpulkan bahwa karakteristik morfologi kota berkaitan dengan tingkat
aksesibilitas fasilitas esensial dalam kerangka 15-minute city di DKI Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB