LAMPIRAN Lioner Octo Gurusinga
Terbatas  Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
Selama satu dekade terakhir, pembangunan daerah tertinggal menjadi salah satu
fokus utama dalam kebijakan pembangunan nasional. Melalui Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT), pemerintah telah
menginisiasi berbagai intervensi program dan kegiatan lintas sektor untuk
mengurangi kesenjangan antar wilayah. Salah satu upaya strategis tersebut dengan
meningkatkan aksesibilitas yang mendukung konektivitas antar wilayah dan
mengurangi hambatan geografis dalam memenuhi kebutuhan layanan dasar bagi
masyarakat. Dalam perkembangannya, aksesibilitas tidak terbatas pada dimensi
fisik seperti transportasi, melainkan meluas ke aksesibilitas digital yang mencakup
teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk mengukur secara empiris hubungan aksesibilitas infrastruktur fisik dan
digital dengan pembangunan di daerah tertinggal. Indikator yang digunakan terdiri
dari aksesibilitas fisik berupa persentase kemantapan jalan dan aksesibilitas digital
berupa persentase cakupan jaringan internet.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif regresi data panel terhadap 415
kabupaten di Indonesia dalam rentang waktu 2019-2023. Metode ini dipilih karena
mampu menangkap dinamika temporal dan variasi spasial antar kabupaten,
sehingga memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan
antara infrastruktur dan pembangunan daerah dalam rentang waktu tersebut.
Pembaruan dari penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya antara
lain adanya perbandingan hubungan antara aksesibilitas infrastruktur fisik dan
digital yang dibandingkan terhadap status daerah berupa daerah tertinggal, daerah
tertinggal entas dan daerah maju (non-daerah tertinggal). Parameter pembangunan
yang digunakan merupakan indikator makro ketertinggalan daerah antara lain
pembangunan ekonomi berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),
pembangunan manusia berupa Rata Lama Sekolah (RLS), dan pembangunan sosial
berupa Persentase Penduduk Miskin (PPM). Variabel lain yang berhubungan
dengan pembangunan daerah juga dipergunakan sebagai kovariat seperti kepadatan
penduduk, pengeluaran per-kapita, pendapatan asli daerah, kemahalan konstruksi,
kebencanaan, angka partisipasi sekolah, akses terhadap listrik dan air bersih.ii
Hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada
aksesibilitas digital khususnya di daerah tertinggal selama periode penelitian tahun
2019-2023. Hal ini berbeda dengan aksesibilitas fisik, dimana daerah tertinggal,
daerah tertinggal entas dan daerah maju mengalami peningkatan namun tidak
signifikan. Apabila dibandingkan, ketimpangan pembangunan infrastruktur baik
aksesibilitas fisik maupun digital masih tinggi antara daerah tertinggal dengan
daerah tertinggal entas dan daerah maju. Lebih lanjut, berdasarkan analisis regresi
data panel, aksesibilitas digital dan fisik secara bersama-sama berhubungan atau
berkorelasi secara positif dan signifikan dengan aspek pembangunan ekonomi,
manusia dan sosial di daerah tertinggal. Hasil menunjukkan perbedaan dengan
daerah tertinggal entas dan daerah maju, dimana secara statistik hanya aksesibilitas
fisik yang berhubungan positif dan signifikan terhadap pembangunan ekonomi,
manusia dan sosial. Temuan ini menunjukkan pentingnya kebijakan pembangunan
aksesibilitas yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah untuk mempercepat
pengentasan ketertinggalan secara berkelanjutan.
Hasil temuan dalam penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan aksesibilitas
fisik dan digital secara komplementer berperan penting dalam pembangunan daerah
khususnya daerah tertinggal. Oleh karena itu kebijakan pembangunan daerah
tertinggal ke depan harus dirancang secara integratif dengan mempertimbangkan
aksesibilitas fisik maupun digital yang disesuaikan dengan karakteristik dan
kebutuhan wilayahnya. Beberapa rekomendasi kebijakan yang merupakan
implikasi dari temuan studi antara lain diperlukan penyusunan indikator
aksesibilitas yang lebih komprehensif, integrasi program pembangunan lintas
sektor, evaluasi dan penyesuaian terhadap indikator ketertinggalan wilayah, serta
perumusan kebijakan yang bersifat transformatif dan adaptif untuk mendorong
percepatan pembangunan daerah tertinggal secara inklusif dan berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB