digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rifda Alya
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Industri penyamakan kulit di Kabupaten Garut menghasilkan limbah cair yang mengandung kromium (Cr). Penggunaan kromium sebagai bahan penyamak utama berpotensi mencemari lingkungan perairan di sekitar kawasan industri dan menimbulkan risiko toksisitas bagi organisme akuatik maupun kesehatan manusia. Metode pengolahan limbah konvensional seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) masih menghadapi berbagai kendala dalam penerapannya, sehingga fitoremediasi menjadi alternatif yang penting untuk dikembangkan karena biaya rendah, ramah lingkungan, dan mampu menyisihkan logam berat dari limbah cair penyamakan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas Typha latifolia dan Canna indica dalam penyisihan kromium dari limbah penyamakan kulit, menganalisis kemampuan akumulasi kromium pada akar kedua spesies melalui pengukuran konsentrasi kromium dan faktor biokonsentrasi (BCF), serta membandingkan pertumbuhan dan respons fisiologis kedua tanaman pada sistem monokultur dan polikultur. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial 3×3 dengan 4 ulangan, meliputi Faktor I (jenis tanaman: monokultur T. latifolia, monokultur C. indica, dan polikultur 1:1) dan Faktor II (jenis media: kontrol, limbah, dan kromium sintetis 50 ppm). Tanaman diaklimatisasi selama 7 hari kemudian diberi perlakuan fitoremediasi sistem batch selama 15 hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah daun, panjang akar, berat basah dan kering), respons fisiologis (kandungan H?O?, total fenol, dan klorofil), serta efisiensi penyisihan kromium pada media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan limbah, C. indica monokultur menunjukkan efisiensi penyisihan kromium tertinggi (58,24%), sedangkan T. latifolia monokultur menghasilkan nilai efisiensi terendah (36,08%). Sebaliknya, pada perlakuan kromium sintetis 50 ppm, T. latifolia monokultur menunjukkan efisiensi tertinggi (99,97%), sedangkan C. indica monokultur menunjukkan efisiensi terendah (38,58%). Konsentrasi kromium akar dan nilai BCF pada C. indica menghasilkan nilai lebih tinggi dibandingkan T. latifolia pada kedua jenis media. Nilai BCF>1 pada seluruh perlakuan mengindikasikan kemampuan kedua spesies untuk mengakumulasi kromium pada akar melebihi konsentrasi kromium pada media. Paparan limbah dan kromium sintetis 50 ppm juga secara umum menekan pertumbuhan tanaman, yang ditunjukkan oleh penurunan pertumbuhan absolut pada tinggi, jumlah daun, panjang akar, dan laju pertumbuhan relatif biomassa pada kedua spesies. Analisis fisiologis menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi H?O? dan kandungan fenol pada serta penurunan kandungan klorofil pada perlakuan limbah dan kromium sintetis 50 ppm pada kedua sistem tanam, terutama pada perlakuan kromium sintetis 50 ppm dibandingkan kontrol. Perubahan tersebut mengindikasikan terjadinya stres oksidatif akibat cekaman kromium. Berdasarkan hasil, T. latifolia dan C. indica berpotensi sebagai agen fitoremediator kromium, dengan C. indica menunjukkan kapasitas akumulasi kromium pada akar yang lebih unggul. Efektivitas penyisihan kromium bergantung pada karakteristik media dan sistem polikultur belum secara konsisten lebih baik dibandingkan monokultur.