digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perusahaan ketenagalistrikan padat modal di Asia menghadapi tekanan likuiditas yang berat karena mereka harus membiayai infrastruktur jangka panjang sekaligus menjaga keandalan operasional sehari-hari. Kebijakan kas mereka juga dipengaruhi oleh pendapatan yang diatur (regulated revenues), kewajiban utang, kebutuhan modal kerja, dan kondisi politik negara. Namun, literatur saat ini sebagian besar berfokus pada kelompok luas perusahaan non-keuangan, dengan bukti yang terbatas mengenai perusahaan utilitas listrik. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor penentu kepemilikan kas pada sampel 31 perusahaan utilitas listrik padat modal di Asia untuk periode 2016–2024. Variabel yang dianalisis meliputi volatilitas arus kas operasi, intensitas belanja modal, tingkat utang, modal kerja bersih, dan risiko negara. Pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan ukuran perusahaan ditempatkan sebagai variabel kontrol, sedangkan risiko negara diukur melalui inversi indikator Stabilitas Politik dari Worldwide Governance Indicators. Penelitian ini menerapkan desain kuantitatif eksplanatori dengan menggunakan data panel sekunder. Kumpulan data awal mencakup 279 observasi perusahaan-tahun, sementara model dinamis menggunakan 248 observasi setelah variabel (periode sebelumnya) disertakan. Kepemilikan kas dihitung sebagai rasio kas dan setara kas terhadap total aset. Metode Two-Step System Generalized Method of Moments digunakan untuk menangani persistensi dinamis, heterogenitas perusahaan yang tidak teramati, serta potensi endogenitas. Temuan menunjukkan bahwa kepemilikan kas pada periode sebelumnya memiliki koefisien positif dan signifikan sebesar 0,9600, yang mengonfirmasi adanya persistensi likuiditas yang kuat. Modal kerja bersih menunjukkan koefisien negatif dan signifikan sebesar 0,0404, sehingga mendukung argumen substitusi likuiditas. Volatilitas arus kas, intensitas belanja modal, tingkat utang, risiko negara, pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan lima persen. Hasil uji diagnostik dan uji ketahanan memperkuat temuan utama ini. Dengan menyajikan bukti spesifik sektor, studi ini menunjukkan bahwa likuiditas historis dan struktur modal kerja mampu menjelaskan kepemilikan kas secara lebih konsisten dibandingkan dengan ketidakpastian operasional, intensitas investasi, utang, dan risiko negara.