digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) merupakan penyakit utama pada budidaya udang putih (Penaeus vannamei) yang disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus dan dapat menimbulkan mortalitas tinggi serta kerugian ekonomi besar. Penggunaan disinfektan menjadi salah satu strategi biosekuriti, namun kajian mengenai aktivitas antimikroba, efektivitas, dan keamanannya terhadap udang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tiga disinfektan, yaitu ‘V20’ berbasis peracetic acid (PAA), trichloroisocyanuric acid (‘TCCA’), dan ‘Virkon Aquatic’ berbasis potassium monopersulfate (KMPS), untuk pengendalian AHPND pada pendederan udang putih. Terdapat tiga tahap penelitian, yaitu (1) uji LC50 pada P. vannamei, (2) uji aktivitas antimikroba (MIC dan MBC) desinfektan terhadap V. parahaemolyticus, serta (3) evaluasi in vivo pada P. vannamei bersamaan dengan uji tantang V. parahaemolyticus. Uji in vivo terdiri atas perlakuan preventif, kuratif, preventif-kuratif, dan perlakuan MIC tanpa uji tantang, disertai kontrol netral (tanpa penambahan desinfektan maupun patogen) dan kontrol negatif (dengan penambahan patogen tanpa penambahan desinfektan). Uji in vivo dilakukan pada sistem statisselama 96 jam, dilanjutkan enumerasi Vibrio pada air dan udang dengan metode spread pada TCBS agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 V20 adalah 10,5 ppm pada 72 jam, produk TCCA adalah 0,6 ppm pada 48 jam dan Virkon Aquatic adalah 20,1 ppm pada 24 jam.. Nilai MIC V20 diperoleh pada 4 ppm, sedangkan MBC V20 serta MIC dan MBC TCCA maupun Virkon Aquatic tidak dapat ditentukan. Hasil analisis Three-way ANOVA menunjukkan bahwa jenis produk, penambahan V. parahaemolyticus, dan metode disinfeksi berpengaruh signifikan terhadap survival udang. Perlakuan preventif menggunakan V20 menghasilkan survival tertinggi, yaitu 79±0,50%, tidak berbeda signifikan dengan kontrol netral sebesar 81±0,99%, dan lebih tinggi dibandingkan kontrol negatif sebesar 46±0,58%. Perlakuan ini juga mampu menurunkan kelimpahan V. parahaemolyticus pada air (2,2??103 CFU/mL) dan udang (1,0 ??106 CFU/g) pada kontrol negatif menjadi dibawah rentang perhitungan untuk air dan di udang menjadi 7,6 ??103 ??????/??. Namun, V20 menunjukkan indikasi toksisitas karena survival pada kontrol positif dengan konsentrasi MIC tanpa uji tantang menurun menjadi 63±0,50%. Desinfektan TCCA paling efektif pada perlakuan preventif dengan survival 63±1,00% dengan penurunan kelimpahan V. parahaemolyticus di air menjadi 2,5??102 ??????/???? dan di udang menjadi 5,8??103 ??????/??; dan perlakuan preventif+kuratif dengan survival 63±0,58% dengan penurunan kelimpahan V. parahaemolyticus di air menjadi 2,4??102 ??????/???? dan di udang menjadi 5,6??103 ??????/??. Desinfektan TCCA juga merupakan desinfektan dengan toksisitas terendah, dengan survival pada kontrol positif dengan konsentrasi MIC tanpa uji tantang V. parahaemolyticus sebesar 73±1,00%. Desinfektan Virkon Aquatic paling efektif melalui perlakuan preventif (63±0,96%) dengan penurunan kelimpahan V. parahaemolyticus di air menjadi 4.6??102 ??????/???? dan di udang menjadi 1,1??104 ??????/??, tetapi menunjukkan indikasi toksisitas dengan survival pada kontrol positif dengan konsentrasi MIC tanpa uji tantang sebesar 68±0,82%. Secara keseluruhan, desinfektan V20 menunjukkan potensi paling unggul dalam pengendalian AHPND karena memiliki aktivitas antimikroba terhadap V. parahaemolyticus dan mampu meningkatkan survival udang pada perlakuan preventif. Namun, penggunaannya perlu dioptimalkan pada rentang konsentrasi rendah karena adanya indikasi toksisitas terhadap udang. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan konsentrasi dan strategi aplikasi disinfektan yang efektif, aman, dan sesuai dengan kondisi pendederan hingga pembesaran udang putih di lapangan