ABSTRAK Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Farah Syaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Ruang terbuka hijau publik merupakan elemen penting dalam penataan ruang
perkotaan yang tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga sebagai ruang
interaksi sosial dan rekreasi bagi masyarakat. Dalam konteks Jakarta, kebutuhan
akan ruang terbuka hijau yang berkualitas semakin mendesak seiring dengan
tingginya tekanan urbanisasi dan berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi
kota. Sebagai respons, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan konsep eco
park sebagai pendekatan pengelolaan taman kota yang mengoptimalkan fungsi
ekologis sekaligus mengakomodasi kebutuhan sosial masyarakat perkotaan.
Salah satu wujud nyata penerapan konsep ini adalah Tebet Eco Park, ruang terbuka
hijau seluas 7,3 hektare di Jakarta Selatan yang diresmikan pada April 2022 sebagai
hasil revitalisasi Taman Tebet Utara dan Taman Tebet Selatan. Taman ini dibangun
berdasarkan empat prinsip utama, yaitu dynamic ecologies, community program,
river renaturalisation, dan connected park, dengan visi "Connecting People with
Nature". Meskipun Tebet Eco Park telah berkembang menjadi salah satu ruang
publik paling populer di Jakarta Selatan, berbagai temuan di lapangan
mengindikasikan adanya kesenjangan antara prinsip-prinsip awal pembangunan
dengan kondisi aktual kawasan, mulai dari persoalan kualitas lingkungan sungai
hingga konflik pemanfaatan ruang. Di sisi lain, hingga memasuki tahun kelima
sejak peresmiannya, belum pernah dilakukan evaluasi formal terhadap ketercapaian
keempat prinsip tersebut. Padahal, evaluasi berkala merupakan bagian penting dari
siklus perencanaan pembangunan untuk menilai kesesuaian antara rencana awal
dan kondisi aktual di lapangan. Penelitian ini berupaya mengisi kekosongan
tersebut dengan merumuskan kerangka evaluasi berbasis prinsip pembangunan
Tebet Eco Park, sekaligus menilai sejauh mana kawasan ini telah memenuhi target
dan prinsip yang ditetapkan sejak awal. Pendekatan yang digunakan adalah evaluasi
semu (pseudo-evaluation) dengan teknik gap analysis untuk membandingkan
kondisi aktual kawasan terhadap indikator ideal yang disusun melalui kajian
literatur, regulasi, dan dokumen perencanaan taman.
Perpustakaan Digital ITB