ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
ANDI BUDI BAKTI
EMBARGO  2029-01-27 
EMBARGO  2029-01-27 
Balongan, Indramayu merupakan daerah di pesisir utara Jawa Barat yang perairannya beresiko tercemar akibat aktivitas antropogenik, terutama dari transportasi laut, kilang minyak, pertanian, pemukiman dan pariwisata. Zat pencemar seperti logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP) dan mikroplastik yang dihasilkan dari aktivitas tersebut, berbahaya bagi kesehatan lingkungan. Sedimen berperan sebagai indikator tingkat pencemaran perairan karena berbagai polutan dapat terakumulasi di dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengarakterisasi sifat fisikokimia serta menguantifikasi kandungan logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn, Cr dan Ni), HAP (Nap, Acy, Ace, Fl, Phe, An, Fla, Py, BaA, Chry, BbF, BkF, BaP, IP, BghiP, dan DbahA) dan mikroplastik pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, (2) mengidentifikasi tingkat, sumber, sebaran dan risiko ekologi pencemaran pada sedimen pantai dari pesisir Balongan Indramayu, dan (3) menganalisis keterkaitan antarparameter uji, kemiripan lokasi dan faktor dominan dalam variasi pola pencemaran melalui pendekatan kemometrik. Metode pengujian meliputi uji logam berat secara AAS- nyala, uji HAP secara GC-MS dan uji mikroplastik (bentuk, ukuran dan jenis polimer) secara mikroskop optik dan FT-IR. Pengolahan data pengujian melibatkan uji statistik (uji normalitas Ryan-Joiner, uji korelasi Pearson/Spearman, uji ANOVA one-way/Kruskal-Wallis dan Principal Component Analysis) dan perhitungan matematis (Indeks Geoakumulasi (Igeo), Faktor Pengayaan (EF), Indeks Potensi Resiko Ekologi (PERI), Indeks Bahaya Polimer (PHI) dan rasio diagnostik) untuk menginterpretasikan tingkat, sumber, sebaran dan risiko pencemaran polutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedimen didominasi fraksi pasir dengan kadar air: 31,4% b/b; porositas: 44,7% v/v; pH: 8,4; bahan organik: 4,9% b/b dan karbonat: 5,9% b/b. Kandungan logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, Ni dan Cr total berturut-turut adalah 18,04; 3,99; 6,53; 86,4; 33,28 dan 19,00 mg/kg bk. Kandungan HAP total adalah 64,37 ?g/kg bk yang terdiri dari HAP dengan bobot molekul rendah (BMR) sebesar 58,05 ?g/kg bk dan bobot molekul tinggi (BMT) sebesar 5,84 ?g/kg bk. Kelimpahan mikroplastik adalah 7,5 partikel/kg bk, didominasi bentuk serat, berukuran 101?700 ?m, dan jenis polipropilena (PP). Kadar Pb, Cu, Zn, Cr, HAP total dan mikroplastik masih dalam kondisi aman. Sedangkan Cd dan Ni teridentifikasi melebihi ambang batas, logam berat Cd diduga berasal dari aktivitas antropogenik, sementara logam berat Ni berasal dari proses alamiah. Meski masih di bawah ambang batas, kadar logam berat Pb, Cu, Zn, Ni dan HAP BMR lebih tinggi di lokasi dekat kilang minyak, kondisi ini diduga berasal dari tumpahan dan pembakaran minyak. Hal ini didasarkan pada rasio diagnostik yang menunjukkan nilai D3>0,1 dan D5<0,4. Selain itu, berdasarkan karakteristik fisikokimia sedimen, lokasi dekat kilang yaitu Pantai Cemara Indah dan Balongan Kesambi diduga mendapat masukan bahan organik, karena fraksi kasar dan bahan organiknya tinggi, padahal fraksi kasar tidak memiliki kemampuan berasosiasi dengan bahan organik. Logam berat (Pb, Cu, Zn dan Ni) dan HAP BMT diduga terikat dalam bahan organik atau memiliki kemiripan sumber pencemar dengan bahan organik, karena ditunjukkan dari korelasi positif antara polutan tersebut dengan fraksi lempung dan bahan organik. Sedangkan logam berat Cd, Cr dan HAP BMR cenderung tidak berkorelasi kuat dengan bahan organik, sehingga diduga utamanya bukan berasal dari tumpahan minyak. Begitupun dengan mikroplastik yang tidak berkorelasi dengan sifat fisikokimia dan polutan lain (logam berat dan HAP). Hal ini diduga bahwa mikroplastik dengan logam berat dan HAP berasal dari sumber pencemar yang berbeda. Dengan demikian, faktor dominan dalam variasi pola pencemaran adalah kemiripan sumber pencemar dan sifat fisikokimia sedimen seperti fraksi lempung dan bahan organik.
Perpustakaan Digital ITB