ABSTRAK
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB I
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Rina Kania
» Gedung UPT Perpustakaan
Evaluasi kualitas akustik ruang tidak hanya ditentukan oleh parameter energi dan peluruhan waktu, tetapi juga oleh parameter spasial yang menggambarkan kesan ruang secara komprehensif. Dua parameter objektif spasial yang esensial berdasarkan standar ISO 3382-1 adalah Lateral Fraction (LF) dan Interaural Cross-Correlation (IACC). Secara konvensional, pengukuran LF menuntut kombinasi mikrofon omnidireksional dan bidireksional yang tersusun secara koinsiden, sedangkan ekstraksi IACC mensyaratkan perangkat binaural fisis seperti Head and Torso Simulator (HATS). Mengingat tingginya keterbatasan biaya, kompleksitas konfigurasi fisis, serta sensitivitas orientasi dari instrumen referensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kelayakan instrumen alternatif yang lebih praktis, yakni mikrofon ambisonik komersial Zoom H3-VR, untuk karakterisasi parameter LF dan IACC. Pengujian fisis dilakukan di dalam Anechoic Chamber Laboratorium Adhiwijogo, Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, guna mengamankan kondisi medan bebas (free-field) tanpa interferensi akustik ruangan. Karakterisasi dilakukan dengan mengakuisisi sinyal eksitasi Exponential Sine Sweep (ESS) yang kemudian dikonversi dari ranah fisis A-format menjadi matriks ortogonal B-format. Kanal W dan Y pada matriks tersebut dialokasikan secara langsung untuk kalkulasi nilai LF, sementara keseluruhan sinyal B-format diproses secara komputasional melalui dekoding binaural untuk mensintesis nilai IACC. Seluruh perolehan nilai dari instrumen ini kemudian dikomparasikan terhadap nilai rujukan analitis dari simulasi medan bebas EASE 5 dengan mengevaluasi selisih deviasi, bias, rentang galat maksimum, serta batas toleransi Just Noticeable Difference (JND). Hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa ekstraksi nilai IACC dari perangkat Zoom H3-VR memiliki tingkat validitas yang tinggi pada pita frekuensi 125–500 Hz, menyentuh batas ambang toleransi pada 1 kHz, dan mulai menyimpang secara signifikan pada pita 2 kHz serta 4 kHz. Tercatat 26 dari 78 titik data pengujian melampaui ambang batas JND, dengan konsentrasi galat tertinggi pada rentang frekuensi 1–4 kHz yang dipicu oleh keterbatasan resolusi First-Order Ambisonics (FOA) serta fenomena spatial aliasing. Pada evaluasi parameter LF, instrumen ini mencatatkan nilai galat keseluruhan yang sangat rendah yakni sebesar 0,035, dengan penyimpangan yang hanya terjadi secara fokal pada sudut 90° di pita frekuensi rendah. Kesimpulannya, Zoom H3-VR terbukti layak difungsikan sebagai instrumen alternatif yang valid untuk pengukuran parameter spasial LF dan IACC pada pita frekuensi rendah hingga menengah, sementara pengukuran IACC pada frekuensi tinggi mensyaratkan koreksi tambahan atau validasi silang dengan instrumen standar ISO 3382.
Perpustakaan Digital ITB