digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Ismail Djohan
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Perkembangan kawasan perkotaan pada wilayah rawan multi-bencana menghadirkan tantangan mendasar dalam praktik penataan ruang, terutama dalam memastikan bahwa ekspansi permukiman tetap selaras dengan daya dukung biofisik dan batas keselamatan geologis. Kota Palu merupakan salah satu kota yang berkembang pada lanskap tektonik aktif dengan ancaman majemuk berupa sesar aktif, likuifaksi, gerakan tanah, tsunami, dan banjir. Pasca-bencana tahun 2018, pemerintah menetapkan Peta Zona Rawan Bencana (ZRB) sebagai instrumen regulatif mitigasi bencana dalam penataan ruang. Namun demikian, pendekatan evaluasi kesesuaian lahan konvensional yang berbasis klasifikasi diskrit maupun agregasi linier kompensatoris berpotensi menghasilkan fenomena kompensasi antar-variabel, dimana nilai tinggi pada variabel utilitas ruang dapat menutupi tingkat kerawanan bahaya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen evaluasi kesesuaian lahan permukiman berbasis logika fuzzy yang mampu mengintegrasikan dimensi potensi ruang dan kendala bahaya secara lebih terstruktur, serta mengevaluasi tingkat konsistensi spasial antara distribusi permukiman eksisting dan alokasi kawasan permukiman dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu terhadap indeks kesesuaian lahan yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif melalui pemodelan Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Sistem Informasi Geografis. Variabel analisis disusun ke dalam dua sub-model utama, yaitu submodel potensi ruang yang mengintegrasikan parameter topografi dan aksesibilitas,ii serta sub-model kendala yang berbasis Zona Rawan Bencana. Transformasi variabel dilakukan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy untuk menghasilkan derajat kesesuaian kontinu pada rentang 0,0–1,0. Integrasi variabel potensi ruang dilakukan menggunakan operator Fuzzy Gamma, sementara zona bahaya ekstrem dan kawasan lindung RTRW diperlakukan sebagai pembatas absolut melalui mekanisme masking biner. Stabilitas model kemudian diuji melalui analisis sensitivitas terhadap variasi parameter gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model evaluasi yang dikembangkan mampu merepresentasikan distribusi spasial kesesuaian lahan secara konsisten dengan karakteristik fisik wilayah Kota Palu. Zona dengan tingkat kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada wilayah dataran lembah Palu yang memiliki topografi relatif datar dan aksesibilitas yang baik, sedangkan wilayah perbukitan serta koridor sesar aktif menunjukkan nilai kesesuaian yang sangat rendah hingga nol mutlak. Hasil uji sensitivitas menunjukkan korelasi spasial antar-skenario parameter gamma di atas 0,997, yang mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat stabilitas yang tinggi terhadap perubahan parameter integrasi. Evaluasi konsistensi spasial menunjukkan bahwa sebagian permukiman eksisting masih berada pada area dengan tingkat kesesuaian sangat rendah akibat persinggungan dengan zona pembatas, sementara alokasi kawasan permukiman dalam RTRW secara umum menunjukkan tingkat kesesuaian yang relatif sebanding dengan distribusi kesesuaian lahan eksisting. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka evaluasi kesesuaian lahan berbasis logika fuzzy yang secara eksplisit memisahkan variabel potensi ruang dan variabel pembatas bahaya dalam struktur model hierarkis, serta menempatkan regulasi Zona Rawan Bencana sebagai baseline normatif dalam proses evaluasi kesesuaian ruang. Pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode evaluasi spasial yang lebih sensitif terhadap bahaya bencana dalam konteks perencanaan kota pada wilayah rawan multi-bencana.