Perkembangan kawasan perkotaan pada wilayah rawan multi-bencana
menghadirkan tantangan mendasar dalam praktik penataan ruang, terutama dalam
memastikan bahwa ekspansi permukiman tetap selaras dengan daya dukung
biofisik dan batas keselamatan geologis. Kota Palu merupakan salah satu kota yang
berkembang pada lanskap tektonik aktif dengan ancaman majemuk berupa sesar
aktif, likuifaksi, gerakan tanah, tsunami, dan banjir. Pasca-bencana tahun 2018,
pemerintah menetapkan Peta Zona Rawan Bencana (ZRB) sebagai instrumen
regulatif mitigasi bencana dalam penataan ruang. Namun demikian, pendekatan
evaluasi kesesuaian lahan konvensional yang berbasis klasifikasi diskrit maupun
agregasi linier kompensatoris berpotensi menghasilkan fenomena kompensasi
antar-variabel, dimana nilai tinggi pada variabel utilitas ruang dapat menutupi
tingkat kerawanan bahaya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan instrumen evaluasi kesesuaian lahan permukiman berbasis logika
fuzzy yang mampu mengintegrasikan dimensi potensi ruang dan kendala bahaya
secara lebih terstruktur, serta mengevaluasi tingkat konsistensi spasial antara
distribusi permukiman eksisting dan alokasi kawasan permukiman dalam Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu terhadap indeks kesesuaian lahan yang
dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif melalui
pemodelan Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Sistem Informasi
Geografis. Variabel analisis disusun ke dalam dua sub-model utama, yaitu submodel potensi ruang yang mengintegrasikan parameter topografi dan aksesibilitas,ii
serta sub-model kendala yang berbasis Zona Rawan Bencana. Transformasi
variabel dilakukan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy untuk menghasilkan
derajat kesesuaian kontinu pada rentang 0,0–1,0. Integrasi variabel potensi ruang
dilakukan menggunakan operator Fuzzy Gamma, sementara zona bahaya ekstrem
dan kawasan lindung RTRW diperlakukan sebagai pembatas absolut melalui
mekanisme masking biner. Stabilitas model kemudian diuji melalui analisis
sensitivitas terhadap variasi parameter gamma. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa model evaluasi yang dikembangkan mampu merepresentasikan distribusi
spasial kesesuaian lahan secara konsisten dengan karakteristik fisik wilayah Kota
Palu. Zona dengan tingkat kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada wilayah dataran
lembah Palu yang memiliki topografi relatif datar dan aksesibilitas yang baik,
sedangkan wilayah perbukitan serta koridor sesar aktif menunjukkan nilai
kesesuaian yang sangat rendah hingga nol mutlak. Hasil uji sensitivitas
menunjukkan korelasi spasial antar-skenario parameter gamma di atas 0,997, yang
mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat stabilitas yang tinggi terhadap
perubahan parameter integrasi. Evaluasi konsistensi spasial menunjukkan bahwa
sebagian permukiman eksisting masih berada pada area dengan tingkat kesesuaian
sangat rendah akibat persinggungan dengan zona pembatas, sementara alokasi
kawasan permukiman dalam RTRW secara umum menunjukkan tingkat kesesuaian
yang relatif sebanding dengan distribusi kesesuaian lahan eksisting. Kebaruan
penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka evaluasi kesesuaian lahan
berbasis logika fuzzy yang secara eksplisit memisahkan variabel potensi ruang dan
variabel pembatas bahaya dalam struktur model hierarkis, serta menempatkan
regulasi Zona Rawan Bencana sebagai baseline normatif dalam proses evaluasi
kesesuaian ruang. Pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan
metode evaluasi spasial yang lebih sensitif terhadap bahaya bencana dalam konteks
perencanaan kota pada wilayah rawan multi-bencana.
Perpustakaan Digital ITB