digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Angiogenesis merupakan proses pembentukan pembuluh darah baru dari pembuluh darah yang telah ada dan berperan penting dalam berbagai kondisi fisiologis pada tubuh, termasuk pada rekayasa jaringan tulang. Salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam rekayasa jaringan tulang adalah penggunaan scaffold yang berfungsi sebagai tempat perlekatan dan diferensiasi sel serta mendukung pembentukan jaringan baru. Scaffold juga harus dapat memfasilitasi angiogenesis dan tidak menimbulkan respon imun yang berlebihan. Poly(?-caprolactone) (PCL) merupakan biomaterial sintetis yang banyak digunakan sebagai bahan dasar dari scaffold, tetapi memiliki keterbatasan dalam bioaktivitas dan memiliki sifat hidrofobik yang tinggi. Penambahan biosilica (BS) dari spons laut Melophlus sarasinorum berpotensi meningkatkan bioaktivitas scaffold dan mendukung angiogenesis melalui karakteristik permukaan serta pelepasan ion silikon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi scaffold berbasis PCL dengan penambahan BS pada konsentrasi 20%, 30%, dan 50%, serta membandingkan pengaruh suhu kalsinasi 600°C dan 900°C terhadap karakteristik scaffold dan potensi angiogenesis menggunakan model Chick Embryo Chorioallantoic Membrane (CAM). Karakterisasi scaffold dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM), sedangkan kemampuan angiogenesis dievaluasi menggunakan model CAM melalui pengamatan perkembangan pembuluh darah dan analisis Vessel Area Density (VAD). Hasil FTIR menunjukkan bahwa scaffold tetap mempertahankan karakter kimia utama PCL, dengan peningkatan kontribusi gugus Si–O–Si seiring meningkatnya kandungan BS dan suhu kalsinasi. Hasil SEM menunjukkan bahwa peningkatan kandungan BS dan suhu kalsinasi menghasilkan permukaan scaffold yang lebih kasar dan struktur pori yang lebih terbuka. Pengamatan CAM menunjukkan bahwa penambahan BS pada scaffold dapat meningkatkan respon angiogenesis. Peningkatan respon tersebut terlihat dari nilai VAD yang cenderung lebih tinggi pada scaffold dengan penambahan BS, dengan respon tertinggi ditunjukkan oleh BS 50%. Pada seluruh konsentrasi scaffold, kelompok yang dikalsinasi pada suhu 900°C memiliki nilai VAD lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang dikalsinasi pada suhu 600°C, terutama terlihat pada pengamatan hari ke-10. Hasil tersebut didukung oleh pengamatan SEM pasca uji CAM, yang menunjukkan adanya struktur vaskular dan vascular sprouting pada permukaan scaffold 900°C. Secara keseluruhan, penambahan BS Melophlus sarasinorum pada scaffold, terutama BS 50% dengan suhu kalsinasi 900°C, berpotensi meningkatkan karakteristik permukaan dan mendukung respons angiogenesis, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai biomaterial untuk aplikasi rekayasa jaringan tulang.