digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Daun suji (Dracaena angustifolia (Medik.) Roxb.) mengandung metabolit sekunder yang berpotensi berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan kadar flavonoid total (KFT) ekstrak serta fraksi daun suji dan menganalisis hubungannya dengan aktivitas antiinflamasi. Daun suji diekstraksi secara bertingkat melalui metode maserasi menggunakan n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%, kemudian ekstrak etil asetat difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum. Aktivitas antioksidan ditentukan menggunakan metode peredaman radikal DPPH, sedangkan KFT ditentukan menggunakan metode kolorimetri aluminium klorida dengan kuersetin sebagai standar. Data aktivitas antiinflamasi diperoleh dari penelitian paralel menggunakan metode inhibisi denaturasi protein BSA. Analisis korelasi Pearson dilakukan secara individual pada setiap sampel. Ekstrak etil asetat menunjukkan aktivitas DPPH terkuat di antara ekstrak dengan IC?? sebesar 493,15 ± 32,71 µg/mL, diikuti ekstrak etanol 70% (513,94 ± 5,15 µg/mL) dan ekstrak nheksana (724,08 ± 5,29 µg/mL). Di antara fraksi, Fraksi 6 menunjukkan aktivitas terkuat (603,93 ± 23,31 µg/mL), sedangkan Fraksi 8 menunjukkan aktivitas terlemah (19.015,46 ± 1.273,10 µg/mL). Fraksi 7 menunjukkan KFT tertinggi sebesar 52,01 ± 1,94 mg QE/g. Pada korelasi DPPH–KFT, ekstrak etanol dan Fraksi 5 menunjukkan korelasi positif kuat (r = 0,713 dan 0,819) dan Fraksi 7 korelasi positif sangat kuat (r = 0,924). Pada korelasi BSA–KFT, Fraksi 5 menunjukkan korelasi positif sedang (r = 0,658). Pada korelasi DPPH–BSA, ekstrak etil asetat menunjukkan korelasi positif sangat kuat (r = 0,992). Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fraksinasi menghasilkan profil aktivitas yang berbeda secara nyata, dengan Fraksi 6 menunjukkan aktivitas DPPH terkuat di antara fraksi, sedangkan Fraksi 7 memiliki KFT tertinggi meskipun aktivitas antioksidannya relatif lemah. Variasi korelasi Pearson pada masing-masing sampel juga menunjukkan bahwa kadar flavonoid ekuivalen bukan merupakan prediktor yang konsisten terhadap aktivitas peredaman radikal DPPH maupun inhibisi denaturasi protein BSA, serta aktivitas antioksidan DPPH tidak selalu sejalan dengan aktivitas inhibisi BSA pada ekstrak dan fraksi yang diuji.