digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rifda Amara Aulia
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian ini mengevaluasi performa simulasi hindcast model WRF dan WRF/WRF-Hydro dalam merepresentasikan hujan ekstrem di Cekungan Bandung. Evaluasi dilakukan pada empat kasus tahun 2025 yang mewakili musim MAM, JJA, SON, dan DJF. Curah hujan digunakan sebagai variabel utama, sedangkan kelembapan tanah dan debit sungai digunakan sebagai variabel pendukung untuk menilai pengaruh representasi hidrologi permukaan dan musim meteorologis terhadap akurasi simulasi. Model WRF dijalankan pada tiga domain bersarang beresolusi 9 km, 3 km, dan 1 km, sementara WRF-Hydro menggunakan routing hidrologi 100 m. Evaluasi dilakukan terhadap data stasiun BBWS Citarum, GPM IMERG, GLEAM, dan debit hasil konversi tinggi muka air di Dayeuhkolot menggunakan metrik PBIAS, RMSE, CC, NSE, serta added value. Sebagai pelengkap, dilakukan eksperimen sensitivitas kelembapan tanah awal pada kasus Maret untuk menelusuri pengaruh kelembapan tanah terhadap hujan. Hasil menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro memberikan nilai tambah pada skala lokal dan evaluasi berbasis stasiun. Pada evaluasi spasial terhadap GPM, WRF masih lebih baik secara rata-rata domain. Analisis kelembapan tanah menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro menghasilkan pola spasial yang lebih detail karena adanya routing, redistribusi lateral air, dan re-infiltrasi. Namun, peningkatan kelembapan tanah tidak selalu langsung diikuti peningkatan akurasi hujan maupun debit. Eksperimen sensitivitas pada kasus Maret menunjukkan bahwa curah hujan responsif terhadap variasi kelembapan tanah awal, dengan perturbasi ±25% mengubah akumulasi hujan hingga +28,6% pada skenario basah dan -23,8% pada skenario kering di wilayah utara. Untuk debit sungai, WRF-Hydro menunjukkan performa lebih baik dibandingkan fully coupled. Secara keseluruhan, WRF/WRF Hydro memberikan nilai tambah lokal pada hujan dan lebih representatif untuk kelembapan tanah, sedangkan WRF-Hydro lebih andal untuk debit.