Penelitian ini mengevaluasi performa simulasi hindcast model WRF dan
WRF/WRF-Hydro dalam merepresentasikan hujan ekstrem di Cekungan Bandung.
Evaluasi dilakukan pada empat kasus tahun 2025 yang mewakili musim MAM,
JJA, SON, dan DJF. Curah hujan digunakan sebagai variabel utama, sedangkan
kelembapan tanah dan debit sungai digunakan sebagai variabel pendukung untuk
menilai pengaruh representasi hidrologi permukaan dan musim meteorologis
terhadap akurasi simulasi. Model WRF dijalankan pada tiga domain bersarang
beresolusi 9 km, 3 km, dan 1 km, sementara WRF-Hydro menggunakan routing
hidrologi 100 m. Evaluasi dilakukan terhadap data stasiun BBWS Citarum, GPM
IMERG, GLEAM, dan debit hasil konversi tinggi muka air di Dayeuhkolot
menggunakan metrik PBIAS, RMSE, CC, NSE, serta added value. Sebagai
pelengkap, dilakukan eksperimen sensitivitas kelembapan tanah awal pada kasus
Maret untuk menelusuri pengaruh kelembapan tanah terhadap hujan. Hasil
menunjukkan bahwa WRF/WRF-Hydro memberikan nilai tambah pada skala lokal
dan evaluasi berbasis stasiun. Pada evaluasi spasial terhadap GPM, WRF masih
lebih baik secara rata-rata domain. Analisis kelembapan tanah menunjukkan bahwa
WRF/WRF-Hydro menghasilkan pola spasial yang lebih detail karena adanya
routing, redistribusi lateral air, dan re-infiltrasi. Namun, peningkatan kelembapan
tanah tidak selalu langsung diikuti peningkatan akurasi hujan maupun debit.
Eksperimen sensitivitas pada kasus Maret menunjukkan bahwa curah hujan
responsif terhadap variasi kelembapan tanah awal, dengan perturbasi ±25%
mengubah akumulasi hujan hingga +28,6% pada skenario basah dan -23,8% pada
skenario kering di wilayah utara. Untuk debit sungai, WRF-Hydro menunjukkan
performa lebih baik dibandingkan fully coupled. Secara keseluruhan, WRF/WRF
Hydro memberikan nilai tambah lokal pada hujan dan lebih representatif untuk
kelembapan tanah, sedangkan WRF-Hydro lebih andal untuk debit.
Perpustakaan Digital ITB