Perempuan merupakan pengguna utama transportasi publik dengan pola mobilitas
yang berbeda dari asumsi pengguna netral yang selama ini menjadi acuan
perancangan. Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Fase 1 yang sedang
memasuki tahap Detail Engineering Design menghadapi tantangan bahwa kerangka
evaluasi responsif gender pada literatur mayoritas berbasis studi ex-post terhadap
sistem yang sudah beroperasi, sehingga kelangkaan kerangka evaluasi ex-ante
berimplikasi pada kualitas perencanaan fasilitas sistem transportasi publik yang
sedang dibangun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebutuhan penumpang
perempuan pada sistem kereta perkotaan praoperasional dengan SRRL Fase 1
sebagai studi kasus. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods
quantitative-dominant embedded design yang mengombinasikan Importance-
Performance Analysis, Customer Satisfaction Index, uji beda nonparametrik
eksploratif, dan analisis tematik pertanyaan terbuka pada 110 responden perempuan
pengguna KA Lokal koridor Pasar Turi hingga Sidoarjo, ditriangulasikan dengan
wawancara Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya sebagai perspektif pihak
perencanaan. Hasil menunjukkan Customer Satisfaction Index agregat 76,50 persen
kategori Puas dengan variasi bermakna antar indikator, konvergensi tiga
subindikator prioritas pada aksesibilitas fisik untuk mobility of care di Kuadran I
IPA yang konsisten dengan 35,45 persen responden berkebutuhan mobilitas
nonstandar, dan anomali subindikator gerbong khusus perempuan yang
menampilkan polarisasi persepsi sekaligus dominasi 31,91 persen suara responden
pada pertanyaan terbuka. Penelitian menghasilkan 16 rekomendasi fasilitas dan
kebijakan operasional yang dikelompokkan dalam tiga tingkatan, yaitu Kebutuhan
Fasilitas Wajib berbasis PM 63/2019 dan Universal Design, Peningkatan Prioritas
berbasis Persepsi Pengguna dari IPA Kuadran I, dan Opsi yang Memerlukan Uji
Kebijakan untuk aspek dengan polarisasi persepsi tinggi seperti gerbong khusus
perempuan. Kerangka Universal Design menjadi payung konseptual yang
mengakomodasi solidaritas gender-based pengguna perempuan sekaligus
menjembatani divergensi konseptual dengan pihak perencanaan pada aspek
pemisahan gender di ruang publik.
Perpustakaan Digital ITB