digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perempuan merupakan pengguna utama transportasi publik dengan pola mobilitas yang berbeda dari asumsi pengguna netral yang selama ini menjadi acuan perancangan. Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Fase 1 yang sedang memasuki tahap Detail Engineering Design menghadapi tantangan bahwa kerangka evaluasi responsif gender pada literatur mayoritas berbasis studi ex-post terhadap sistem yang sudah beroperasi, sehingga kelangkaan kerangka evaluasi ex-ante berimplikasi pada kualitas perencanaan fasilitas sistem transportasi publik yang sedang dibangun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebutuhan penumpang perempuan pada sistem kereta perkotaan praoperasional dengan SRRL Fase 1 sebagai studi kasus. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods quantitative-dominant embedded design yang mengombinasikan Importance- Performance Analysis, Customer Satisfaction Index, uji beda nonparametrik eksploratif, dan analisis tematik pertanyaan terbuka pada 110 responden perempuan pengguna KA Lokal koridor Pasar Turi hingga Sidoarjo, ditriangulasikan dengan wawancara Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya sebagai perspektif pihak perencanaan. Hasil menunjukkan Customer Satisfaction Index agregat 76,50 persen kategori Puas dengan variasi bermakna antar indikator, konvergensi tiga subindikator prioritas pada aksesibilitas fisik untuk mobility of care di Kuadran I IPA yang konsisten dengan 35,45 persen responden berkebutuhan mobilitas nonstandar, dan anomali subindikator gerbong khusus perempuan yang menampilkan polarisasi persepsi sekaligus dominasi 31,91 persen suara responden pada pertanyaan terbuka. Penelitian menghasilkan 16 rekomendasi fasilitas dan kebijakan operasional yang dikelompokkan dalam tiga tingkatan, yaitu Kebutuhan Fasilitas Wajib berbasis PM 63/2019 dan Universal Design, Peningkatan Prioritas berbasis Persepsi Pengguna dari IPA Kuadran I, dan Opsi yang Memerlukan Uji Kebijakan untuk aspek dengan polarisasi persepsi tinggi seperti gerbong khusus perempuan. Kerangka Universal Design menjadi payung konseptual yang mengakomodasi solidaritas gender-based pengguna perempuan sekaligus menjembatani divergensi konseptual dengan pihak perencanaan pada aspek pemisahan gender di ruang publik.