Tugas akhir ini membahas persamaan empirik hasil dari perbandingan langsung
antara intensitas akustik dan sampel lapangan konsentrasi sedimen tersuspensi.
Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas gema akustik menjadi
konsentrasi sedimen tersuspensi dengan kalibrasi konsentrasi sedimen tersuspensi
dari sampel lapangan. Data diperoleh dari tiga lokasi pengukuran yang terletak di
pesisir utara pantai Jawa Barat, yaitu Pulau Semak Daun, Muara Gembong, dan
Indramayu. Pengukuran dilakukan dengan instrumen hidro-akustik tipe Doppler
yaitu AWAC (frekuensi 600kHz) dan Aquadopp? (frekuensi 600kHz dan
1000kHz). Pengambilan sampel air dilakukan pada ketiga lokasi pengukuran
untuk mengetahui konsentrasi sampel sedimen tersuspensi. Persamaan empirik
dievaluasi dengan membandingkan konsentrasi sampel dan konsentrasi hasil
estimasi. Hasil menunjukkan bahwa estimasi konsentrasi tergantung pada
frekuensi instrumen yang digunakan dan lokasi pengukuran. Sensitivitas pada
instrumen berfrekuensi 1000kHz lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen
berfrekuensi 600kHz. Penentuan akurasi berdasarkan tingkat kesesuaian yang
diperoleh dengan membandingkan konsentrasi hasil estimasi dan konsentrasi hasil
pengukuran dan digolongkan ke dalam faktor dua (nilai perbandingan berada
diantara 0,5 dan 2). Hasil menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian faktor dua
bernilai diatas 60% untuk lokasi pulau Semak Daun dan Muara Gembong,
sedangkan untuk daerah Indramayu nilainya masih berada di bawah 60%. Perlu
digarisbawahi bahwa hasil estimasi dengan menggunakan persamaan empirik
dalam kajian ini bersifat relatif, karena tidak dilakukan kalibrasi karakteristik
instrumen dan properti sedimen. Walaupun demikian, hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan instrumen
hidro-akustik untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi.
Perpustakaan Digital ITB