digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan teknologi memungkinkan pengukuran gayaberat menggunakan wahana pesawat terbang atau dikenal sebagai survei gayaberat airborne. Teknologi ini menjadi solusi atas keterbatasan survei gayaberat secara terestris. Teknologi ini menjadi angin segar untuk mengatasi keterbatasan pengukuran gayaberat secara terestris. Wilayah Kalimantan menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang memiliki dua periode survei gayaberat airborne. Pengukuran Data A dilakukan tahun 2009-2010 mencakup seluruh Kalimantan menggunakan gravimeter Air/Sea S99 LaCoste & Romberg dengan jarak antar jalur terbang sekitar 18 km. Pengukuran berikutnya yaitu Data B dilakukan pada periode 2021-2022 menggunakan gravimeter Canadian Micro Gravity GT-2A mengisi celah antar jalur sebelumnya sehingga jarak antar jalur terbang menjadi sekitar 9 km. Beberapa jalur terbang dibuat bertampalan antara periode pertama dan kedua. Evaluasi performa dilakukan pada data anomali free-air (FAA) gayaberat airborne pulau Kalimantan pada waktu pengukuran yang berbeda di mana masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Evaluasi mencakup uji kualitas internal masing-masing data melalui cross-over analysis, uji kualitas pada pertampalan jalur terbang dibandingkan dengan data EGM2008, serta analisis spasial dan spektrum masing-masing data. Data B memiliki konsistensi internal MAE = 2,944 mGal dan STD = 4,412 mGal lebih baik dari Data A MAE = 5,628 mGal dan STD 7,322 mGal. Kombinasi kedua data (Data C) menunjukkan nilai pertengahan antara kedua data dengan MAE = 4,343 mGal dan STD = 6,044 mGal. Cross-over adjustment dilakukan menggunakan metode orde-0 dan orde-1. Cross-over adjustment Data A, B dan C orde 1 menunjukkan MAE 2,391 mGal STD 4,630 mGal, MAE 1,604 mGal STD 2,689 mGal, dan MAE 2,489 mGal STD 3,727 mGal. Nilai ini lebih baik dari penggunaan orde 0 dengan hasil MAE 2,927 mGal STD 4,262 mGal, MAE 1,779 mGal STD 2,712 mGal, dan MAE 2,599 mGal STD 3,759 mGal. Akan tetapi, penggunaan orde 1 menunjukkan potensi perubahan pola spasial pada beberapa jalur terbang secara ekstrem. Hal ini dikarenakan kondisi sebaran cross-line yang tidak ideal. Hasil analisis 30 pasangan pertampalan jalur terbang ditambah dengan perbandingan dengan EGM2008 menunjukkan dengan jelas adanya perbedaan referensi antar data. Hal ini ditunjukkan dengan adannya shifting antara Data A dan B di beberapa pasangan jalur terbang. Perbedaan FAA Data A dan B pada pertampalan jalur terbang menghasilkan rentang MAE 0,757 mGal hingga 12,792 mGal. Dengan melakukan kombinasi antara Data A dan B kemudian dilakukan cross-over adjustment bersama memperbaiki masalah ini. Perbedaan FAA Data A dan B pada pertampalan jalur terbang mengecil menghasilkan rentang MAE 0,986 mGal hingga 6,868 mGal. Sementara itu, analisis spektrum menunjukkan bahwa Data B memiliki amplitudo yang lebih tinggi dibandingkan Data A dan EGM2008 pada rentang panjang gelombang menengah hingga pendek. Data B juga menunjukkan peluruhan spektrum yang lebih lambat, yang konsisten dengan tingkat derau yang lebih rendah dan kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan sinyal dinamis. Secara keseluruhan, integrasi dataset gayaberat airborne wilayah Kalimantan meningkatkan koherensi spasial dan spektrum, serta memberikan landasan yang lebih kuat untuk penyempurnaan geoid maupun berbagai aplikasi geosains lainnya, termasuk analisis struktur kerak, interpretasi cekungan, dan eksplorasi sumber daya alam.