digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Naufal Iman
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil mendorong urgensi transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT), di mana energi angin memiliki potensi teknis nasional yang besar mencapai 154,9 GW. Namun, pemanfaatan potensi ini dihadapkan pada tantangan perubahan iklim global serta risiko operasional lokal seperti curah hujan tinggi yang dapat memicu Leading Edge Erosion (LEE) pada bilah turbin. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren po- tensi dan stabilitas energi angin hingga tahun 2100, serta menyusun zonasi kes- esuaian lahan turbin angin di Indonesia melalui pengintegrasian parameter meteor- ologi dan batasan fisik lingkungan. Evaluasi dilakukan menggunakan multi-model ensemble dari 5 model GCM (MI- ROC6, EC-Earth3, BCC-CSM2-MR, ACCESS-ESM1-5, FGOALS-g3) dalam da- taset NASA NEX-GDDP-CMIP6 dengan pembanding reanalisis ERA5 (1950- 2014) untuk skenario SSP1-2.6, SSP2-4.5, dan SSP5-8.5. Penilaian multi-kriteria spasial disusun menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dan Ana- lytic Hierarchy Process (AHP). Analisis ini melibatkan variabel Wind Power Den- sity (WPD), parameter Weibull (k dan c), durasi hari hujan berturut-turut (Consec- utive Wet Days/CWD), serta biner masking tutupan lahan berbasis data ESA CCI- LC dan Global Forest Watch (GFW). Hasil evaluasi menunjukkan adanya bias overestimate terhadap magnitudo ke- cepatan angin absolut pada wilayah topografi kompleks, namun model andal dalam menangkap variabilitas spasialnya. Proyeksi masa depan menunjukkan tren kenai- kan nilai absolut WPD yang searah dengan tingkat emisi, dengan intensitas tertinggi (>450 W/m2 ) terkonsentrasi di koridor selatan khatulistiwa pada akhir abad (2076- 2100). Integrasi multi-kriteria menetapkan koridor selatan Indonesia sebagai Zona Kelayakan Tinggi (indeks 3,5-4,0) yang stabil di seluruh skenario iklim. Berdasar- kan peta kesesuaian akhir, turbin skala besar (>1 MW) direkomendasikan di Pulau Sumba, Flores bagian barat, dan Jawa Tengah; skala medium (40-999 kW) di Jawa Barat, Papua bagian selatan, dan Sulawesi Selatan; sedangkan skala kecil (2-40 kW) dialokasikan untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan akibat batasan regulasi ke- hutanan dan potensi angin yang lebih rendah.