Peningkatan konsentrasi nutrien memicu eutrofikasi dan mekar alga yang
mengancam ekosistem pesisir. Teluk Ambon Dalam (TAD) rentan terhadap
fenomena ini akibat konfigurasi batimetri semi-tertutup dengan ambang dangkal
yang membatasi sirkulasi pasang surut. Sebagian besar algoritma penginderaan
jauh optik gagal mengestimasi klorofil-a di TAD karena tingginya gangguan optik
dari sedimen tersuspensi, yang menghasilkan deteksi positif palsu. Penelitian ini
menggunakan arsitektur Convolutional Neural Network (CNN) untuk memetakan
klorofil-a secara spasial. Model ini menggunakan lima pita spektral optik mentah
satelit Sentinel-2 sebagai input dan Normalized Difference Chlorophyll Index
(NDCI) sebagai target luaran, tanpa memerlukan input lingkungan tambahan.
Evaluasi kinerja menunjukkan akurasi tinggi pada kondisi perairan stabil di bulan
Februari 2024, mencatat nilai R² sebesar 0,9085 dan Root Mean Square Error
(RMSE) 0,0178, serta R² 0,8667 dengan RMSE 0,0262 pada November 2023. Pada
periode ini, stratifikasi termal menjebak nutrisi antropogenik di pesisir timur, dan
CNN secara presisi memetakan pertumbuhan alga terlokalisasi tersebut. Penurunan
presisi terjadi saat musim muson tenggara pada Juni 2020 dengan R² 0,5929 dan
RMSE 0,0655. Arus naik dari Laut Banda menarik massa air padat nutrisi melewati
ambang dangkal sekaligus mengaduk material sedimen dasar laut ke permukaan.
Tingginya konsentrasi padatan tersuspensi ini mendistorsi sinyal optik klorofil-a,
memicu algoritma memproduksi estimasi berlebih (overestimate) nilai NDCI
secara ekstrem. Secara keseluruhan, CNN mampu menekan gangguan sinyal
sedimen secara langsung melalui komputasi matematis. Model ini terbukti akurat
dalam memetakan distribusi klorofil-a pada kondisi oseanografi yang stabil di
perairan pesisir yang kompleks.
Perpustakaan Digital ITB