digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kebijakan arus lalu lintas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara dari aktivitas kendaraan pada jaringan jalan tol di DKI Jakarta. Penelitian meliputi empat tahapan, yaitu: (1) pengembangan faktor emisi kendaraan berbasis remote sensing; (2) penyusunan inventarisasi emisi menggunakan pendekatan activity-based emission inventory; (3) analisis distribusi spasial emisi berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS); dan (4) pengembangan model kebijakan arus lalu lintas untuk mitigasi emisi. Pengukuran emisi dilakukan di 19 lokasi selama tiga bulan pada tahun 2021 dan menghasilkan 92.613 data kendaraan valid yang teridentifikasi melalui License Plate Number (LPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor emisi tertinggi dihasilkan oleh Heavy Duty Vehicle (HDV) truk dan bus diesel. Emisi NO?, NO, dan NO? kendaraan diesel sekitar tiga kali lebih tinggi, sedangkan emisi soot sekitar sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Sebaliknya, faktor emisi bus berbahan bakar Compressed Natural Gas (CNG) sekitar lima kali lebih rendah dibandingkan bus diesel. Faktor emisi kendaraan cenderung menurun pada kendaraan dengan tahun produksi yang lebih baru, terutama setelah penerapan standar emisi Euro II. Kecepatan kendaraan berkorelasi dengan faktor emisi mengikuti persamaan polinomial orde dua, sedangkan konsumsi bahan bakar menunjukkan hubungan linier dengan faktor emisi (R² > 0,5). Inventarisasi emisi menunjukkan bahwa beban emisi didominasi oleh CO? sebesar 1.427 kton/tahun (98,3%), diikuti CO sebesar 17.550 ton/tahun (1,2%), NO? sebesar 5.271 ton/tahun (0,36%), dan HC sebesar 2.156 ton/tahun (0,15%), sedangkan CH?, N?O, dan soot memberikan kontribusi yang relatif kecil. Emisi CO?, CH?, N?O, CO, dan HC didominasi kendaraan penumpang berbahan bakar bensin, sedangkan emisi NO? dan soot didominasi kendaraan diesel, terutama HDV. Ruas Tol Tanjung Duren menghasilkan beban emisi terbesar untuk sebagian besar polutan, sedangkan emisi soot tertinggi terdapat pada ruas Tol Kamal-1. Analisis spasial mengidentifikasi empat koridor hotspot emisi, yaitu Tanjung Duren–Tomang, Cengkareng–Kapuk, Halim Utama–Cikunir, dan Cililitan Utama–Dukuh-1, yang i merupakan koridor utama penghubung Jakarta dengan Tangerang, Bogor, Bekasi, serta akses menuju Bandara Internasional Soekarno–Hatta. Berdasarkan identifikasi hotspot tersebut, dikembangkan model kebijakan arus lalu lintas menggunakan skenario Truck Only Toll (TOT) pada koridor CengkarengKapuk dan Halim Utama–Cikunir. Simulasi menunjukkan bahwa penerapan TOT secara wajib pada tahun 2030 berpotensi menurunkan emisi CO?e, NO?, dan soot masing-masing sebesar 64,5%, 60,0%, dan 88,3% dibandingkan kondisi eksisting. Penelitian ini menghasilkan model kebijakan arus lalu lintas yang mengintegrasikan faktor emisi berbasis remote sensing, inventarisasi emisi berbasis aktivitas, analisis spasial, dan simulasi kebijakan sebagai dasar ilmiah untuk mendukung transportasi rendah karbon, pengendalian pencemaran udara, dan perencanaan sistem transportasi perkotaan berkelanjutan di DKI Jakarta maupun kawasan metropolitan lainnya.