Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat, sementara produksi bahan bakar fosil domestik cenderung menurun sehingga meningkatkan ketergantungan terhadap impor energi. Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) menjadi salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, namun sebagian besar BBN masih berbasis bahan baku pangan yang berpotensi menimbulkan kompetisi dengan kebutuhan pangan. Nipah (Nypa fruticans) merupakan sumber daya hayati mangrove yang melimpah di Indonesia dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku BBN nonpangan. Meskipun berbagai penelitian mengenai BBN telah dilakukan, kajian pemanfaatan buah Nipah sebagai sumber Bioetanol serta pengembangan indikator keberlanjutan kompositnya masih terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan pemanfaatan Nipah sebagai sumber BBN, mengevaluasi kelayakan dan keberlanjutan tepung buah Nipah sebagai bahan baku Bioetanol, memproyeksikan keberlanjutan pemanfaatannya pada aspek Keamanan Energi, Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial, serta mengembangkan indikator dan kinerja keberlanjutan komposit pemanfaatan Nipah di Indonesia.
Penelitian dilakukan melalui empat tahapan yang memadukan data primer dan sekunder. Tahap pertama meliputi analisis vegetasi, karakterisasi kimia buah dan nira, estimasi potensi produksi, serta pemodelan regresi untuk menganalisis kebutuhan bahan bakar nasional. Tahap kedua mencakup pembuatan dan karakterisasi tepung buah Nipah serta evaluasi keberlanjutan menggunakan kerangka Global Bioenergy Partnership (GBEP). Tahap ketiga menggunakan analisis regresi, simulasi proyeksi, serta kerangka United Nations Economic Commission for Europe (UNECE) dan GBEP untuk mengevaluasi keberlanjutan pada aspek Keamanan Energi, Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial. Tahap keempat mengembangkan indikator keberlanjutan komposit menggunakan metode Composite Sustainability Index (CSI) berbasis Organisation for Economic Co- operation and Development (OECD).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah dan nira Nipah memiliki karakteristik yang mendukung pemanfaatannya sebagai bahan baku Bioetanol. Potensi produksi daging buah Nipah diperkirakan mencapai 3,34 juta ton per tahun, sedangkan nira memiliki potensi produksi Bioetanol sebesar 13.330,24 juta liter per tahun. Sebaliknya, potensi produksi minyak Nipah relatif rendah dibandingkan Kelapa sawit sehingga lebih prospektif dikembangkan sebagai sumber Bioetanol daripada Biodiesel. Proses pengeringan menghasilkan tepung dengan kandungan karbohidrat
87,12±0,07 persen dan rendemen 40,93 persen, sehingga berpotensi menghasilkan Bioetanol sebesar 856,82 juta liter per tahun. Meskipun lebih rendah dibandingkan nira maupun beberapa bahan baku pangan, tepung Nipah tetap layak dikembangkan karena berasal dari sumber nonpangan dan menunjukkan kinerja keberlanjutan yang baik. Pemanfaatan Nipah meningkatkan konsumsi BBN, menurunkan konsumsi BBM, mengurangi emisi CO?, serta tidak mengganggu pasokan pangan nasional.
Hasil proyeksi menunjukkan bahwa integrasi Bioetanol berbasis buah dan tepung Nipah berpotensi memperkuat keberlanjutan sistem energi nasional. Ketergantungan terhadap impor bahan bakar diproyeksikan dapat berakhir pada periode 2048–2051, disertai penurunan konsumsi BBM sebesar 43–63 persen dan pengurangan emisi GRK sebesar 24–27 persen. Dari aspek Sosial, penggunaan Nipah mengurangi ketergantungan pada Jagung sebagai bahan baku Bioetanol sehingga mampu menekan potensi kenaikan harga pangan. Penelitian ini menghasilkan tiga indikator keberlanjutan komposit, yaitu Ekonomi (penurunan konsumsi Bensin), Lingkungan (penurunan emisi GRK), dan Sosial (perubahan harga pangan). Analisis menunjukkan hubungan sinergis yang sangat kuat antara aspek Ekonomi dan Lingkungan (r = 0,98–1,00) serta hubungan trade-off dengan aspek Sosial (r = –0,739 hingga –0,922). Kinerja CSI menunjukkan bahwa skenario yang mengintegrasikan Nipah menghasilkan sistem keberlanjutan yang lebih seimbang dan robust dibandingkan skenario berbasis bahan baku pangan.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan indikator keberlanjutan komposit pemanfaatan Nipah sebagai sumber BBN menggunakan metode CSI berbasis OECD yang mengintegrasikan aspek Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial dalam satu kerangka kuantitatif. Penelitian ini juga menghasilkan pendekatan evaluasi yang mampu menggambarkan keterkaitan energi–lingkungan–pangan secara terpadu, sehingga memperkaya metodologi penilaian keberlanjutan bioenergi. Temuan penelitian memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan BBN nonpangan di Indonesia serta mendukung perumusan kebijakan transisi energi yang lebih berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB