Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Minyak sawit
yang diproduksi di Indonesia banyak mengandung micronutrient seperti karotenoid,
khususnya beta karoten yang memiliki potensi penggunaan pada industri farmasi. Namun
pada kenyataannya, proses produksi crude palm oil (CPO) dari minyak sawit sering kali
membuang karotenoid karena tidak berguna di dalam proses produk. Maka dari itu
dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk melakukan ekstraksi beta karoten dari
minyak sawit menggunakan pelarut berupa aseton, etanol, petroleum eter, n-heksan, dan
asam asetat melalui metode maserasi. Setelah pelarut paling efektif didapatkan, dilakukan
perbandingan dengan metode ekstraksi baru yaitu ultrasound-assisted extraction (UAE).
Proses ekstraksi dilakukan pada suhu 55 °C selama 1 jam dengan variasi rasio umpan dan
pelarut. Hasil ekstrak kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk
menentukan konsentrasi beta karoten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut nheksan,
petroleum eter, dan aseton tidak dapat membentuk dua fasa terpisah dari CPO.
Pelarut etanol menghasilkan perolehan (yield) beta karoten yang lebih tinggi (hingga
15,0%) dan tingkat retensi degradasi yang lebih stabil (70–80%) dibandingkan asam
asetat (hingga 13,0%) yang menyebabkan degradasi beta karoten cukup tinggi serta
penurunan selektivitas akibat terbentuknya senyawa feofitin berwarna hijau. Penggunaan
metode UAE dengan pelarut etanol meningkatkan perolehan beta karoten secara minor
hingga 18,1%, namun berdasarkan analisis uji t, perbedaan tersebut tidak signifikan
secara statistik terhadap metode maserasi
Perpustakaan Digital ITB