Dalam praktik kriya tekstil kontemporer, inovasi tidak selalu hadir dalam bentuk material
baru, melainkan melalui rekontekstualisasi teknik tradisional untuk memenuhi tantangan
estetika modern. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi reka struktur (structural design)
yang memegang peranan penting dalam menciptakan nilai estetika dan fungsi baru. Teknik
yang diangkat adalah overshot weaving, sebuah teknik tenun struktur pakan tambahan yang
dikarakterisasikan oleh benang pakan tambahan yang "melayang" (float) di atas benang
lusi untuk membentuk pola geometris. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi
potensi overshot weaving yang terinspirasi dari identitas visual Nusantara, yaitu motif
Tenun Sidan dari suku Dayak Iban.
Metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang berfokus pada
eksplorasi berbasis praktik desain. Proses penelitian dilakukan melalui dua tahap utama,
yaitu pendekatan digital dan manual. Tahap digital melibatkan proses duplikasi motif
Tenun Sidan menjadi modul digital, yang kemudian ditranslasikan menjadi weaving draft.
Tahap manual dilakukan dengan merealisasikan rancangan tenun tersebut pada alat 8-shaft
table loom. Eksplorasi penelitian dilakukan terhadap tiga motif Tenun Sidan, antara lain
Kaki Kemebai, Gelung Kelindang, dan Buah Bangkit.
Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan motif pada teknik
overshot sangat bergantung pada kontras warna dan ukuran benang. Pada percobaan
pertama, motif kurang terlihat karena penggunaan benang pakan yang terlalu tebal dan
warna yang tidak kontras. Namun, pada percobaan kedua, motif berhasil muncul dengan
jelas di permukaan kain meskipun ukuran modul motif menjadi lebih kecil dan tekstur
timbulnya lebih tipis. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa
rekontekstualisasi motif Tenun Sidan ke dalam teknik overshot weaving berhasil
memberikan interpretasi baru pada wastra tradisional Nusantara melalui praktik kriya
kontemporer.
Perpustakaan Digital ITB