digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Mark Christian Martua Manurung
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu daerah dengan potensi endapan nikel laterit yang besar karena tersusun oleh batuan ultramafik sebagai batuan induk. Penelitian ini dilakukan di Lapangan “MARINA”, Tapunopaka, dengan tujuan untuk memetakan distribusi lapisan nikel laterit bawah permukaan serta mengidentifikasi batas antar lapisan topsoil, limonit, saprolit, dan bedrock menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR). Metode GPR dipilih karena memiliki resolusi tinggi pada kedalaman dangkal hingga menengah serta bersifat cepat dan non-destruktif, sehingga sesuai untuk eksplorasi awal endapan nikel laterit. Akuisisi data GPR dilakukan menggunakan peralatan MALA Rough Terrain Antenna (RTA) dengan frekuensi 25 MHz pada enam lintasan pengukuran, yaitu lintasan 5, 6, 9A, 9B, 10A, dan 10B, dengan panjang lintasan bervariasi antara 253 m hingga 393 m. Data hasil akuisisi diolah menggunakan perangkat lunak ReflexW melalui beberapa tahapan, meliputi Dewow, Static Correction, Automatic Gain Control (AGC), Bandpass Butterworth filter, Background Removal, FK-filter, Running Average, serta koreksi topografi. Hasil pengolahan selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan dalam bentuk radargram dan diagram pagar untuk menggambarkan kontinuitas lateral lapisan laterit. Hasil interpretasi radargram menunjukkan adanya kontras amplitudo refleksi yang jelas antara zona laterit dan batuan dasar ultramafik. Lapisan topsoil–limonit umumnya teridentifikasi pada kedalaman 0–14 m, lapisan saprolit berada pada kedalaman sekitar 6–60 m dengan ketebalan yang bervariasi secara lateral, sedangkan bedrock mulai muncul pada kedalaman 30–68 m. Zona saprolit menunjukkan refleksi yang relatif heterogen akibat pengaruh variasi kandungan lempung dan kadar air, namun tetap menjadi zona target utama eksplorasi nikel laterit. Korelasi antara hasil interpretasi GPR dan data bor menunjukkan kesesuaian yang baik pada lapisan topsoil dan limonit, sementara pada lapisan saprolit terdapat perbedaan kedalaman yang dipengaruhi oleh heterogenitas material bawah permukaan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode GPR dengan antena frekuensi 25 MHz efektif untuk memetakan distribusi dan ketebalan lapisan nikel laterit pada kedalaman dangkal hingga menengah. Integrasi data GPR dan data borii sangat penting untuk meningkatkan keakuratan interpretasi bawah permukaan, sehingga metode ini dapat menjadi pendukung yang andal dalam tahap awal eksplorasi nikel laterit di daerah tropis seperti Sulawesi Tenggara.