ABSTRAK Mark Christian Martua Manurung
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan
Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu daerah
dengan potensi endapan nikel laterit yang besar karena tersusun oleh batuan
ultramafik sebagai batuan induk. Penelitian ini dilakukan di Lapangan “MARINA”,
Tapunopaka, dengan tujuan untuk memetakan distribusi lapisan nikel laterit bawah
permukaan serta mengidentifikasi batas antar lapisan topsoil, limonit, saprolit, dan
bedrock menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR). Metode GPR
dipilih karena memiliki resolusi tinggi pada kedalaman dangkal hingga menengah
serta bersifat cepat dan non-destruktif, sehingga sesuai untuk eksplorasi awal
endapan nikel laterit. Akuisisi data GPR dilakukan menggunakan peralatan MALA
Rough Terrain Antenna (RTA) dengan frekuensi 25 MHz pada enam lintasan
pengukuran, yaitu lintasan 5, 6, 9A, 9B, 10A, dan 10B, dengan panjang lintasan
bervariasi antara 253 m hingga 393 m. Data hasil akuisisi diolah menggunakan
perangkat lunak ReflexW melalui beberapa tahapan, meliputi Dewow, Static
Correction, Automatic Gain Control (AGC), Bandpass Butterworth filter,
Background Removal, FK-filter, Running Average, serta koreksi topografi. Hasil
pengolahan selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan dalam bentuk radargram
dan diagram pagar untuk menggambarkan kontinuitas lateral lapisan laterit. Hasil
interpretasi radargram menunjukkan adanya kontras amplitudo refleksi yang jelas
antara zona laterit dan batuan dasar ultramafik. Lapisan topsoil–limonit umumnya
teridentifikasi pada kedalaman 0–14 m, lapisan saprolit berada pada kedalaman
sekitar 6–60 m dengan ketebalan yang bervariasi secara lateral, sedangkan bedrock
mulai muncul pada kedalaman 30–68 m. Zona saprolit menunjukkan refleksi yang
relatif heterogen akibat pengaruh variasi kandungan lempung dan kadar air, namun
tetap menjadi zona target utama eksplorasi nikel laterit. Korelasi antara hasil
interpretasi GPR dan data bor menunjukkan kesesuaian yang baik pada lapisan
topsoil dan limonit, sementara pada lapisan saprolit terdapat perbedaan kedalaman
yang dipengaruhi oleh heterogenitas material bawah permukaan. Secara
keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode GPR dengan antena
frekuensi 25 MHz efektif untuk memetakan distribusi dan ketebalan lapisan nikel
laterit pada kedalaman dangkal hingga menengah. Integrasi data GPR dan data borii
sangat penting untuk meningkatkan keakuratan interpretasi bawah permukaan,
sehingga metode ini dapat menjadi pendukung yang andal dalam tahap awal
eksplorasi nikel laterit di daerah tropis seperti Sulawesi Tenggara.
Perpustakaan Digital ITB