digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - PANDU ARDI SETIAWAN
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Nikel semakin banyak dibutuhkan dalam berbagai sektor industri, terutama pada industri baterai kendaraan listrik, dan dapat ditemukan di Pulau Sulawesi. Secara administratif, lokasi penelitian terletak di Daerah Tapunopaka, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas area 0,92 km² yang termasuk dalam IUP PT ANTAM Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik profil laterit terhadap kelimpahan unsur nikel (Ni) pada zona limonit-saprolit dan kobalt (Co) pada zona limonit, serta menganalisis karakteristik batuan dasar di daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data assay pada 10 titik bor, 11 sampel petrografi, peta geologi lembar Lasusua-Kendari, data DEMNAS, dan foto pengamatan lapangan. Secara umum profil endapan nikel laterit di daerah penelitian terbagi menjadi empat zona yaitu top soil, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Jenis batuan dasar yang ditemukan pada daerah penelitian adalah harzburgit, dunit, dan lherzolit. Terdapat 2 tipe endapan nikel laterit pada daerah penelitian yaitu tipe hydrous Mg silicate deposits (paling dominan) dan tipe oxide deposits. Daerah penelitian telah mengalami laterisasi kuat, memiliki nilai Ultramafic Index of Alteration (UMIA) tertinggi yaitu 79,62 pada zona limonit, dan menunjukkan tren pelapukan menuju ke arah pengayaan unsur besi (Fe). Estimasi persebaran unsur nikel (Ni) dan kobalt (Co) dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW) pada zona limonit dan saprolit. Berdasarkan hasil estimasi pada zona limonit, kadar rata-rata nikel yang tinggi (Ni > 1,42 wt%) dan kadar rata-rata kobalt yang tinggi (Co > 0,16 wt%) berada di timur laut dari daerah penelitian dengan ketebalan limonit yang relatif lebih tebal (ketebalan mencapai 8 m). Berdasarkan hasil estimasi pada zona saprolit, kadar rata-rata nikel yang tinggi (Ni > 1,47 wt%) berada di barat laut - barat daya dan timur dari daerah penelitian dengan ketebalan saprolit yang relatif lebih tebal (ketebalan mencapai 19 m). Daerah yang memiliki batuan dasar berjenis dunit cenderung menghasilkan kadar nikel yang relatif lebih tinggi pada zona saprolit dibandingkan batuan dasar berjenis harzburgit karena batuan dunit mengandung lebih banyak mineral olivin sehingga dapat menghasilkan pengayaan nikel yang lebih besar.