digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Tumbuhan famili Apocynaceae dikenal sebagai sumber alkaloid bioaktif yang memiliki efek terapeutik, termasuk aktivitas antikanker (vinblastin) dan antipsikotik (alstonin). Berbagai senyawa dari famili ini menunjukkan aktivitas antikanker berdasarkan hasil uji praklinik. Salah satu spesies yang termasuk dalam famili Apocynaceae adalah Kopsia fruticosa. Di Indonesia, tumbuhan ini dikenal dengan nama lokal pink kopsia. Tumbuhan K. fruticosa telah diketahui menghasilkan metabolit sekunder utama yaitu alkaloid indol monoterpen (MIA). Sejumlah senyawa MIA di antaranya menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap berbagai sel kanker seperti sel BGC-823 (karsinoma lambung), MCF-7 (kanker payudara), W480 (kanker usus), HS-1, HS-4, SCL-1, dan A431 (dermatoma). Selain itu, beberapa senyawa MIA dari K. fruticosa seperti mersinin A dan kopsinin telah diuji aktivitas MDR reversal, antialergi, antidiabetes, dan antitusif. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan terhadap daun K. fruticosa yang tumbuh di Kebun Raya Bogor, Indonesia, dua senyawa MIA telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi sebagai frutikosamin dan frutikosin. Stereokimia relatif dari kedua senyawa telah ditentukan berdasarkan data NMR dan putaran optik spesifik. Namun, stereokimia absolut kedua senyawa tersebut belum ditetapkan. Selain itu, dalam proses pemisahan, masih terdapat fraksi yang mengandung senyawa lain yang berpotensi untuk dapat dipisahkan lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian lanjutan ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid indol monoterpen lain dari daun K. fruticosa. Selain itu, dilakukan pula penentuan stereokimia absolut dari senyawa hasil isolasi. Ekstraksi senyawa alkaloid dari daun K. fruticosa Indonesia diawali dengan maserasi serbuk daun kering denagan metanol. Terhadap ekstrak metanol dilakukan ekstraksi asam-basa dengan larutan asam asetat 10% dan larutan amonia 10% yang kemudian dilakukan ekstraksi cair-cair untuk memperoleh ekstrak alkaloid total. Pemisahan senyawa pada ekstrak alkaloid dilakukan dengan berbagai teknik kromatografi, meliputi kromatografi kolom gravitasi (KKG) dan kromatografi radial (KR). Uji kemurnian senyawa dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan tiga sistem eluen berbeda. Identifikasi struktur senyawa hasil isolasi dilakukan berdasarkan analisis spektroskopi NMR 1D (1H dan 13C) dan 2D (HSQC, HMBC, dan COSY). Selanjutnya dilakukan penentuan stereokimia absolut senyawa hasil isolasi menggunakan electronic circular dichroism (ECD) dan single-crystal X-ray diffraction (SC-XRD). Pada penelitian ini telah diisolasi dan diidentifikasi dua senyawa MIA selain frutikosamin dan frutikosin, yaitu metil N1-dekarbometoksikanofrutikosinat (4,8 mg) yang memiliki kerangka kanofrutikosinat dan KF-3 (9,8 mg) yang memiliki kerangka aspidofraktinin. Metil N1-dekarbometoksikanofrutikosinat memiliki nilai putaran optik spesifik 23,0 [????]???? +249,5° (c 0,073; CHCl3) sedangkan senyawa KF-3 menunjukkan nilai 23,0 rotasi [????]???? +21° (c 0,050; CHCl3). Senyawa metil N1-dekarbometoksikanofrutikosinat sebelumnya telah dilaporkan dari K. officinalis, K. arborea, K. hainanensis, dan K. pitardii, namun baru pertama kali dilaporkan dari K. fruticosa. Sementara itu, senyawa KF-3 diusulkan sebagai senyawa dengan kerangka analog dari frutikosin yang teroksidasi pada posisi C-3 dan strukturnya masih dalam proses konfirmasi. Sementara itu, senyawa frutikosamin dan frutikosin berhasil direkristalisasi dan hasil analisis ECD serta SC-XRD menunjukkan bahwa konfigurasi absolut (2S,6R,7R,16S,17R,20R,21S)- frutikosamin dan (2S,6R,7R,16R,17R,20R,21S)-frutikosin. Penentuan konfigurasi absolut dari kedua senyawa ini untuk pertama kali dilaporkan pada penelitian ini. Selanjutnya, stereokimia dari metil N1-dekarbometoksikanofrutikosinat dan KF-3 saat ini disarankan pula sebagai (2S,6R,7R,20R,21S)-metil N1-dekarbometoksikanofrutikosinat dan (2S,6R,7R,16R,17R,20R,21S)-KF-3 berdasarkan kemiripan struktur dan data spektroskopi dengan senyawa frutikosin.