digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Studi ini mengevaluasi kelayakan finansial pendirian lokakarya fabrikasi baja untuk ZAN Construction, kontraktor rancang-bangun di Bandung, serta mengidentifikasi lokasi mana dari dua kandidat, yaitu Kota Bekasi atau Kabupaten Bandung Barat, yang memberikan kinerja finansial yang lebih unggul. Penelitian ini menjawab permasalahan yang terus berlanjut bagi kontraktor menengah di Indonesia, yang memiliki kemampuan untuk merancang dan membangun struktur tetapi bergantung pada pihak ketiga untuk fabrikasi, suatu ketidakmampuan yang muncul bagi perusahaan sebagai kerugian peluang sekitar Rp 793 juta pada satu proyek jembatan. Apakah ketergantungan tersebut dapat dihilangkan melalui investasi modal, dan penentuan lokasi yang paling menguntungkan, adalah permasalahan yang dibahas dalam studi ini. Studi ini menggunakan desain kasus tunggal (Yin, 2018) dan mengintegrasikan evaluasi kuantitatif dengan analisis strategis kualitatif. Komponen kuantitatifnya adalah model penganggaran modal sepuluh tahun untuk kapasitas tahunan lokakarya sebesar 1.200 ton, dan fasilitas tersebut dibiayai secara merata melalui utang dan ekuitas. Tingkat diskonto diperoleh dari Capital Asset Pricing Model (CAPM), dengan beta yang disesuaikan dengan struktur modal perusahaan dan skema pembiayaan dua tingkat yang mencerminkan pembiayaan bank, sehingga menghasilkan Biaya Modal Rata rata Tertimbang sekitar 11,5%. Nilai investasi diukur dengan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Payback Period (PBP). Model ini diuji melalui analisis sensitivitas satu arah yang mengidentifikasi ambang batas dimana setiap variabel akan menghapus nilai proyek. Komponen kualitatif menerapkan kerangka kerja Porter’s Five Forces, SWOT, dan TOWS untuk merekonstruksi posisi kompetitif perusahaan kedalam strategi. Model ini bergantung pada asumsi berikut: utilisasi meningkat dari 50% menjadi 90% selama periode waktu tertentu sesuai dengan teori pembelajaran produksi; kedua lokasi memiliki profil utilisasi dan pendapatan yang sama sehingga perbedaan muncul dari struktur biaya itu sendiri; depresiasi mengikuti garis lurus sesuai dengan peraturan pajak Indonesia. Hipotesis yang diuji adalah bahwa lokakarya tersebut menghasilkan pengembalian yang melebihi biaya modal dan bahwa lokasi secara signifikan memengaruhi pengembalian tersebut. Hasil tersebut mengonfirmasi kelayakan dikedua lokasi. Nilai Net Present Value (NPV) yang dihasilkan bernilai positif sekitar IDR 30,1 miliar untuk Kota Bekasi dan IDR 33,6 miliar untuk Kabupaten Bandung Barat; Internal rate of return (IRR) sebesar 25,9% dan 31,8% melebihi tingkat ambang batas 11,5%; Profitability Index (PI) sebesar 2,04 dan 2,52 menunjukkan penciptaan nilai diluar pengeluaran; dan diskonto Payback Period (PBP) dicapai dalam waktu 5,8 dan 4,7 tahun. Kabupaten Bandung Barat unggul disemua kriteria, hasil yang disebabkan oleh biaya lahan dan tenaga kerja yang lebih rendah daripada perbedaan pendapatan. Analisis sensitivitas menetapkan biaya baja mentah sebagai variabel yang paling sensitif, diikuti oleh volume produksi, upah tenaga kerja, bahan habis pakai, dan transportasi yang memiliki pengaruh terbatas. Analisis strategis menegaskan kasus kuantitatif, meningkatkan sertifikasi perusahaan, dan menyoroti paparan harga baja sebagai risiko utama.