Studi ini mengevaluasi kelayakan finansial pendirian lokakarya fabrikasi baja
untuk ZAN Construction, kontraktor rancang-bangun di Bandung, serta
mengidentifikasi lokasi mana dari dua kandidat, yaitu Kota Bekasi atau Kabupaten
Bandung Barat, yang memberikan kinerja finansial yang lebih unggul. Penelitian
ini menjawab permasalahan yang terus berlanjut bagi kontraktor menengah di
Indonesia, yang memiliki kemampuan untuk merancang dan membangun struktur
tetapi bergantung pada pihak ketiga untuk fabrikasi, suatu ketidakmampuan yang
muncul bagi perusahaan sebagai kerugian peluang sekitar Rp 793 juta pada satu
proyek jembatan. Apakah ketergantungan tersebut dapat dihilangkan melalui
investasi modal, dan penentuan lokasi yang paling menguntungkan, adalah
permasalahan yang dibahas dalam studi ini. Studi ini menggunakan desain kasus
tunggal (Yin, 2018) dan mengintegrasikan evaluasi kuantitatif dengan analisis
strategis kualitatif. Komponen kuantitatifnya adalah model penganggaran modal
sepuluh tahun untuk kapasitas tahunan lokakarya sebesar 1.200 ton, dan fasilitas
tersebut dibiayai secara merata melalui utang dan ekuitas. Tingkat diskonto
diperoleh dari Capital Asset Pricing Model (CAPM), dengan beta yang
disesuaikan dengan struktur modal perusahaan dan skema pembiayaan dua tingkat
yang mencerminkan pembiayaan bank, sehingga menghasilkan Biaya Modal Rata
rata Tertimbang sekitar 11,5%. Nilai investasi diukur dengan Net Present Value
(NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Payback Period
(PBP).
Model ini diuji melalui analisis sensitivitas satu arah yang mengidentifikasi
ambang batas dimana setiap variabel akan menghapus nilai proyek. Komponen
kualitatif menerapkan kerangka kerja Porter’s Five Forces, SWOT, dan TOWS
untuk merekonstruksi posisi kompetitif perusahaan kedalam strategi. Model ini
bergantung pada asumsi berikut: utilisasi meningkat dari 50% menjadi 90%
selama periode waktu tertentu sesuai dengan teori pembelajaran produksi; kedua
lokasi memiliki profil utilisasi dan pendapatan yang sama sehingga perbedaan
muncul dari struktur biaya itu sendiri; depresiasi mengikuti garis lurus sesuai
dengan peraturan pajak Indonesia. Hipotesis yang diuji adalah bahwa lokakarya
tersebut menghasilkan pengembalian yang melebihi biaya modal dan bahwa lokasi
secara signifikan memengaruhi pengembalian tersebut. Hasil tersebut
mengonfirmasi kelayakan dikedua lokasi. Nilai Net Present Value (NPV) yang
dihasilkan bernilai positif sekitar IDR 30,1 miliar untuk Kota Bekasi dan IDR 33,6
miliar untuk Kabupaten Bandung Barat; Internal rate of return (IRR) sebesar
25,9% dan 31,8% melebihi tingkat ambang batas 11,5%; Profitability Index (PI)
sebesar 2,04 dan 2,52 menunjukkan penciptaan nilai diluar pengeluaran; dan
diskonto Payback Period (PBP) dicapai dalam waktu 5,8 dan 4,7 tahun. Kabupaten
Bandung Barat unggul disemua kriteria, hasil yang disebabkan oleh biaya lahan
dan tenaga kerja yang lebih rendah daripada perbedaan pendapatan. Analisis
sensitivitas menetapkan biaya baja mentah sebagai variabel yang paling sensitif,
diikuti oleh volume produksi, upah tenaga kerja, bahan habis pakai, dan
transportasi yang memiliki pengaruh terbatas. Analisis strategis menegaskan kasus
kuantitatif, meningkatkan sertifikasi perusahaan, dan menyoroti paparan harga
baja sebagai risiko utama.
Perpustakaan Digital ITB