Hidrogeomorfometri merupakan integrasi tiga disiplin ilmu—hidrologi, geologi,
dan morfometri—yang dalam penelitian ini digunakan untuk memahami interaksi
antara proses hidrologi (aliran sungai, curah hujan, evaporasi), kontrol geologi
(struktur tektonik dan stratigrafi bawah permukaan), serta parameter morfometri
(bentuk dan dimensi tubuh air). Variabilitas merujuk pada ketidaksamarataan
spasial dan temporal dari ketiga komponen tersebut, yang tercermin dalam respons
planform Sungai Mahakam yang dikotomis antara hulu dan hilir, serta perbedaan
trajektori morfometri antar ketiga danau (Jempang, Melintang, Semayang) dalam
sistem kaskade yang sama. Evolusi Danau Kaskade Mahakam (DKM) menjadi
fokus akhir penelitian, yakni rekonstruksi genesa dan perubahan dimensi ketiga
danau sepanjang waktu geologis hingga dekade terakhir, yang dikontrol oleh
interaksi antara tektonik, dinamika fluvial, dan proses sedimentasi.
Penelitian ini bertujuan mengungkap mekanisme evolusi DKM melalui pendekatan
hidrogeomorfometri terintegrasi yang mencakup morfometri sungai dan danau,
hidrogeokimia dan isotop stabil, stratigrafi bawah permukaan berbasis data
resistivitas, serta analisis morfotektonik. Analisis morfometri kelok Sungai
Mahakam selama 30 tahun (1990–2020) mengungkapkan respons planform yang
dikotomis: segmen hulu mengalami pelurusan alur (straightening) akibat cutoff dan
tekanan antropogenik, sementara segmen hilir menunjukkan perpanjangan saluran
(extension) dan peningkatan sinuositas. Pada tubuh danau, Volume Development
(VD) terbukti sebagai indikator peringatan dini yang lebih sensitif dibandingkan
luas permukaan. Danau Melintang mengalami penurunan VD drastis dari 0,94
menjadi 0,52 (?VD = -0,42) dengan kehilangan volume 80%—sinyal pengisian
sedimen tercepat pada danau prioritas Indonesia. Sebaliknya, Danau Semayang
menunjukkan pemulihan VD (0,06?0,24) meskipun luasnya menyusut,
mengindikasikan potensi reversibilitas hidrologis jika konektivitas melalui Sungai
Pela tetap terjaga. Danau Jempang relatif stabil (?VD = -0,08). Data hidrogeokimia
menunjukkan dominasi fasies natrium bikarbonat (Na-HCO?) yang mencerminkan
interaksi air-sedimen melalui pertukaran kation. Gradasi isotop stabil (?¹?O dan
?²H) berfungsi sebagai proxy konektivitas hidrologi kontemporer dan memvalidasi
perilaku aliran dari simulasi HEC-RAS yang menunjukkan zona stagnasi di Danau
Jempang. Data resistivitas bawah permukaan mengonfirmasi keberadaan endapan
black shale menerus di Danau Jempang sebagai penciri lingkungan lakustrin
ii
tenang, serta geometri melensa di Danau Melintang–Semayang yang
mencerminkan proses pemisahan akibat suplai sedimen dari inlet. Secara struktural,
Antiklinorium Samarinda berperan sebagai morfologi barier yang membendung
aliran Sungai Mahakam (fenomena backwash), menciptakan ruang akomodasi pada
cekungan sinklin asimetris (half-graben) tempat ketiga danau terbentuk secara
bertahap. Penelitian ini mengusulkan ambang batas ?VD dekadal -0,2 sebagai
pemicu intervensi manajemen danau prioritas. Pendekatan multidisiplin berbasis
biaya rendah ini menyediakan kerangka metodologi yang replikatif bagi
pemantauan danau prioritas nasional lainnya di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB