digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Hidrogeomorfometri merupakan integrasi tiga disiplin ilmu—hidrologi, geologi, dan morfometri—yang dalam penelitian ini digunakan untuk memahami interaksi antara proses hidrologi (aliran sungai, curah hujan, evaporasi), kontrol geologi (struktur tektonik dan stratigrafi bawah permukaan), serta parameter morfometri (bentuk dan dimensi tubuh air). Variabilitas merujuk pada ketidaksamarataan spasial dan temporal dari ketiga komponen tersebut, yang tercermin dalam respons planform Sungai Mahakam yang dikotomis antara hulu dan hilir, serta perbedaan trajektori morfometri antar ketiga danau (Jempang, Melintang, Semayang) dalam sistem kaskade yang sama. Evolusi Danau Kaskade Mahakam (DKM) menjadi fokus akhir penelitian, yakni rekonstruksi genesa dan perubahan dimensi ketiga danau sepanjang waktu geologis hingga dekade terakhir, yang dikontrol oleh interaksi antara tektonik, dinamika fluvial, dan proses sedimentasi. Penelitian ini bertujuan mengungkap mekanisme evolusi DKM melalui pendekatan hidrogeomorfometri terintegrasi yang mencakup morfometri sungai dan danau, hidrogeokimia dan isotop stabil, stratigrafi bawah permukaan berbasis data resistivitas, serta analisis morfotektonik. Analisis morfometri kelok Sungai Mahakam selama 30 tahun (1990–2020) mengungkapkan respons planform yang dikotomis: segmen hulu mengalami pelurusan alur (straightening) akibat cutoff dan tekanan antropogenik, sementara segmen hilir menunjukkan perpanjangan saluran (extension) dan peningkatan sinuositas. Pada tubuh danau, Volume Development (VD) terbukti sebagai indikator peringatan dini yang lebih sensitif dibandingkan luas permukaan. Danau Melintang mengalami penurunan VD drastis dari 0,94 menjadi 0,52 (?VD = -0,42) dengan kehilangan volume 80%—sinyal pengisian sedimen tercepat pada danau prioritas Indonesia. Sebaliknya, Danau Semayang menunjukkan pemulihan VD (0,06?0,24) meskipun luasnya menyusut, mengindikasikan potensi reversibilitas hidrologis jika konektivitas melalui Sungai Pela tetap terjaga. Danau Jempang relatif stabil (?VD = -0,08). Data hidrogeokimia menunjukkan dominasi fasies natrium bikarbonat (Na-HCO?) yang mencerminkan interaksi air-sedimen melalui pertukaran kation. Gradasi isotop stabil (?¹?O dan ?²H) berfungsi sebagai proxy konektivitas hidrologi kontemporer dan memvalidasi perilaku aliran dari simulasi HEC-RAS yang menunjukkan zona stagnasi di Danau Jempang. Data resistivitas bawah permukaan mengonfirmasi keberadaan endapan black shale menerus di Danau Jempang sebagai penciri lingkungan lakustrin ii tenang, serta geometri melensa di Danau Melintang–Semayang yang mencerminkan proses pemisahan akibat suplai sedimen dari inlet. Secara struktural, Antiklinorium Samarinda berperan sebagai morfologi barier yang membendung aliran Sungai Mahakam (fenomena backwash), menciptakan ruang akomodasi pada cekungan sinklin asimetris (half-graben) tempat ketiga danau terbentuk secara bertahap. Penelitian ini mengusulkan ambang batas ?VD dekadal -0,2 sebagai pemicu intervensi manajemen danau prioritas. Pendekatan multidisiplin berbasis biaya rendah ini menyediakan kerangka metodologi yang replikatif bagi pemantauan danau prioritas nasional lainnya di Indonesia.