COVER Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Shofiyyah Mutiara Tsabita
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Kawasan perkotaan yang terus berkembang menyebabkan berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan meningkatnya fenomena Urban Heat Island (UHI). Kampus merupakan salah satu bentuk RTH yang memiliki potensi besar dalam mitigasi UHI karena memiliki pohon-pohon peneduh di dalamnya. Setiap spesies pohon memiliki karakteristik yang unik sehingga memiliki perbedaan kemampuan dalam menurunkan suhu lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membandingkan dua spesies pohon peneduh jalan, yaitu Gmelina arborea (gmelina) dan Jacaranda mimosifolia (jakaranda) dalam menurunkan suhu lingkungan. Karakteristik tumbuhan yang dicatat adalah bentuk dan luas kanopi, luas bayangan, Plant Area Index (PAI), dan morfologi daun. Faktor lingkungan yang diukur meliputi suhu udara, kelembapan udara relatif, transmisivitas cahaya, dan suhu tanah. Uji T-Test dilakukan untuk mengetahui perbedaan parameter uji antar spesies pohon. Selain itu, dilakukan perhitungan persentase pengurangan indeks ketidaknyamanan (dDI%). Suhu udara rata-rata tanpa pohon pelindung adalah 35,63 ± 11,47 °C. Keberadaan pohon terbukti dapat menurunkan suhu udara dan tanah. Suhu udara di bawah kanopi gmelina adalah 29,95 °C (penurunan suhu 5,65 ± 2,47 °C) dan pada jakaranda 30,05 °C (penurunan suhu 5,60 ± 3,22 °C). Suhu tanah tanpa kanopi adalah 28,55 ± 1,15 °C, sedangkan di bawah gmelina tercatat 26,03 °C (penurunan 2,57 ± 0,97 °C) dan di bawah jakaranda 26,15 °C (penurunan 2,35 ± 0,99 °C). Daun tunggal gmelina yang lebar lebih banyak menurunkan suhu udara karena memiliki luas bayangan yang lebih besar (36,80 m²) dan transmisivitas sebesar 31,84 ± 13,53% dibandingkan dengan jakaranda dengan luas bayangan 15,32 m² dan transmisivitas 31,13 ± 18,81%. Namun, daun majemuk yang rapat (PAI = 1,92 m²/m²) pada jakaranda dapat menurunkan suhu yang mendekati kemampuan gmelina (PAI = 1,49 m²/m²). Penurunan suhu pada kedua tumbuhan didukung oleh peningkatan kelembapan di bawah kedua kanopi (tanpa naungan 60,87 ± 6,71%; gmelina 67,47 ± 7,81%; dan jakaranda 65,10 ± 5,86%). Kemampuan kedua vegetasi ini menurunkan suhu, dapat mengurangi ketidaknyamanan termal (dDI%) sebanyak 12,38 ± 5,08% pada jakaranda dan 11,10 ± 4,74% pada gmelina. Dengan demikian, kedua spesies pohon tersebut berfungsi baik dalam meregulasikan suhu pada ekosistem urban, meskipun perlu dicatat bahwa jakaranda dapat menggugurkan daunnya ketika musim kemarau sehingga regulasi suhu akan dipertahankan lebih lama oleh pohon gmelina.
Perpustakaan Digital ITB