Kebakaran merupakan salah satu hal yang mengancam keanekaragaman hayati terutama pada hutan tropis. Namun kebakaran juga bermanfaat secara ekologi seperti memicu pembungaan atau perkecambahan biji. Kebakaran berulang dapat memengaruhi vegetasi, dinamika biji melalui bank biji tanah (soil seed bank), dan hujan biji (seed rain). Salah satu hutan dengan kebakaran berulang adalah hutan Mutis, kawasan dengan nilai ekonomi tinggi di Nusa Tenggara Timur-Indonesia. Meskipun kawasan ini menerima curah hujan relatif tinggi dibandingkan wilayah lain di Pulau Timor, kondisi iklimnya didominasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan musim hujan. Kebakaran terjadi secara tidak merata pada seluruh kawasan dan berpotensi mengancam keberlanjutan Eucalyptus urophylla, spesies asli yang menurut daftar IUCN terancam punah meskipun dominan di wilayah ini. Mengingat bahwa kebakaran juga dapat berperan positif terhadap ekologi, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji peran kebakaran terhadap keberlanjutan E. urophylla melalui regenerasi alami pada wilayah hutan Mutis.
Penelitian terdahulu mengenai E. urophylla lebih berfokus pada pemanfaatan kayu, karbon, sifat genetik biji, dan dilakukan pada perkebunan. Sementara itu penelitian E.urophylla pada habitat alami masih terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi peran kebakaran terhadap kondisi vegetasi dan dinamika biji pada bank biji tanah dan hujan biji di kawasan hutan Mutis serta menganalisis upaya konservasi untuk keberlanjutan E. urophylla.
Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu analisis kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji. Tahapan pertama dilakukan pada Februari 2023 hingga Maret 2023. Data vegetasi dikumpulkan dari 50 plot (10 x 10) m di setiap area dengan mengukur pohon yang memiliki DBH (diameter at breast height, 1,3 m di atas permukaan tanah) ? 3 cm dan vegetasi bawah yaitu anakan pohon dan herba/perdu dari 50 sub plot (1x1 m). Pengukuran kondisi fisika-kimia tanah dan ph tanah juga dilakukan pada tahap ini. Tahapan kedua dilakukan pengumpulan sampel tanah secara purposive sampling pada bulan Februari 2023 (bulan basah) dan September 2023 (bulan kering), menggunakan alat besi berukuran (15x15x6) cm dengan total 60
titik sampel tanah. Tahapan ketiga, dilakukan pada Februari 2023 hingga September 2023 dengan mengumpulkan biji menggunakan 50 perangkap biji (Ø 50 cm) di setiap area. Namun, selama periode penelitian, banyak perangkap biji yang rusak karena aktivitas manusia maupun faktor alami. Pengumpulan biji pada awalnya direncanakan setiap 10 hari, namun karena kondisi cuaca dan keterbatasan sumber daya manusia, maka hanya dapat dilakukan selama 12 kali pencuplikan biji selama tujuh bulan. Perumusan strategi konservasi untuk keberlanjutan ekosistem hutan Mutis, dibuat berdasarkan hasil interpretasi data kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran tidak selalu berdampak negatif terhadap kondisi vegetasi dan ketersediaan biji. Pada lokasi terbakar, E.urophylla dengan DBH > 40 cm memiliki kerapatan tertinggi. Hal ini menunjukkan kemampuan E.urophylla terutama dengan DBH besar untuk bertahan hidup sekalipun ada kebakaran. Kebakaran berulang juga dapat merangsang pertumbuhan tunas epikormik pada E.urophylla sehingga mampu bertahan terhadap kebakaran. Pada lokasi tidak terbakar, Dacrycarpus imbricatus memiliki kerapatan tertinggi, namun, Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan bahwa E.urophylla memiliki INP tertinggi baik pada lokasi terbakar (177,05%) maupun lokasi tidak terbakar (115,70%). Meskipun kerapatan E.urophylla dengan DBH > 3 cm tinggi, namun kerapatan anakan E.urophylla rendah, diduga berkaitan dengan mortalitas akibat kebakaran, persaingan, dan penyakit. Hal ini mengindikasikan regenerasi alami E.urophylla mengkhawatirkan.
Pada bank biji tanah ditemukan biji E.urophylla, Pittosporum timorense, Olea paniculata, dan jenis biji tak teridentifikasi. Kerapatan biji total pada lokasi terbakar lebih tinggi (1508,2 biji/m²) dibandingkan kerapatan total biji pada lokasi tidak terbakar (1128,8 biji/m²). Kerapatan biji E.urophylla cenderung mengalami peningkatan pada bulan September dibandingkan pada bulan Februari. Meskipun secara statistik terdapat perbedaan signifikan bank biji tanah di kedua lokasi, namun kerapatan biji yang diasumsikan masih mampu beregenerasi alami hanya mencapai 103,7 biji/m2 di lokasi terbakar dan 94,8 biji/m2 di lokasi tidak terbakar. Nilai ini tergolong rendah jika dibandingkan kerapatan bank biji tanah di beberapa wilayah hutan lain. Sehingga upaya regenerasi alami E. urophylla tidak dapat hanya mengandalkan bank biji tanah.
Pada hujan biji ditemukan empat spesies biji yaitu E. urophylla, Olea paniculata, Pittosporum timorense, dan Rapanea hasseltii. Biji E.urophylla mendominasi dikedua lokasi, namun pada lokasi terbakar lebih tinggi (369,4 biji/m²) dibandingkan lokasi tidak terbakar (200 biji/m²). Biji E. urophylla yang ditemukan pada pencuplikan ke-12 (September 2023) merupakan pencuplikan dengan biji tertinggi selama penelitian. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penyebaran biji sangat tinggi terjadi pada akhir periode pencuplikan. Namun biji E. urophylla yang secara fisik masih utuh dan diasumsikan mampu beregenerasi alami hanya 40,76 biji/m² pada lokasi terbakar dan 38,22 biji/m² pada lokasi tidak terbakar. Nilai ini termasuk rendah dibandingkan kerapatan biji pada hujan biji di beberapa wilayah lain.
Kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji pada lokasi penelitian dapat berpotensi mengancam keberlanjutan regenerasi E. urophylla. Rendahnya anakan E. urophylla yang ditemukan, rendahnya biji E. urophylla yang masih utuh, tidak rusak secara fisik, dan diasumsikan masih dapat beregenerasi alami, dari bank biji tanah dan hujan biji, mengindikasikan bahwa regenerasi alami pada hutan Mutis mengkhawatirkan. Regenerasi alami E. urophylla tidak dapat hanya mengandalkan masukan biji dari bank biji tanah maupun hujan biji. Implementasi upaya konservasi dapat dilakukan untuk menjaga keberlanjutan regenerasi alami hutan dengan cara pengumpulan biji E. urophylla pada bulan April hingga Mei, budidaya E. urophylla pada lokasi target untuk pemulihan pasca kebakaran, dan menerapkan strategi pengelolaan kebakaran di kawasan hutan Mutis.
Perpustakaan Digital ITB