Model ritel blind-box Pop Mart yang memiliki volatilitas tinggi telah mendorong
pertumbuhan yang sangat pesat di Indonesia. Strategi ini mengandalkan
kelangkaan yang direkayasa, dukungan selebritas (celebrity endorsement), serta
gamifikasi. Ketergantungan pada elemen-elemen tersebut kemungkinan besar akan
berdampak jangka panjang pada keberlanjutan merek, kepercayaan konsumen,
dan kesejahteraan pelanggan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami mekanisme psikologis melalui mana
dukungan selebritas, gamifikasi blind-box, dan isyarat kelangkaan memengaruhi
perilaku konsumen, pembelian impulsif secara digital, serta niat pembelian ulang.
Berdasarkan kerangka kerja Stimulus–Organism–Response (S–O–R), hipotesis
stimulus pemasaran dimediasi oleh kondisi internal organisme seperti keterikatan
parasosial, kenikmatan yang dirasakan, dan gairah emosional, yang sering kali
dikaitkan dengan fear of missing out (FOMO).
Penelitian kuantitatif yang bersifat eksplanatori dan cross-sectional telah
dilakukan. Data dikumpulkan dari 229 konsumen Indonesia berusia 18–40 tahun
yang menggunakan produk Pop Mart. Partial Least Squares Structural Equation
Modelling (PLS-SEM) dengan 5.000 bootstrap resamples digunakan untuk menilai
model pengukuran dan model struktural.
Model struktural menunjukkan dinamika yang menarik. Gamifikasi blind-box
bekerja melalui jalur hedonis berbasis imbalan untuk menjaga keterlibatan dan
kepuasan pengguna, dengan isyarat kelangkaan sebagai pendorong utama
perilaku. Isyarat tersebut bekerja melalui jalur tekanan berbasis gairah dan
memicu transaksi impulsif yang bersifat paksaan. Dukungan selebritas merupakan
jalur parasosial yang kontraproduktif. Secara khusus, ekspektasi konsumen yang
lebih tinggi selalu menyebabkan disonansi pascapembelian ketika terungkap,
sehingga menurunkan niat pembelian ulang dalam jangka panjang. Penelitian ini
memperluas model S–O–R ke ritel barang koleksi fisik. Hasil penelitian
menunjukkan spesialisasi stimulus yang lengkap pada berbagai saluran psikologis.
Pop Mart perlu berfokus pada penyempurnaan arsitektur kelangkaan yang etis
serta pendalaman ekosistem hedonis yang tergamifikasi. Strategi yang lebih
terarah untuk mengurangi pemasaran berbasis intensitas parasosial juga sangat
penting demi retensi konsumen jangka panjang.
Perpustakaan Digital ITB