digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rangkong (Famili Bucerotidae) merupakan kelompok burung frugivora yang berperan penting sebagai penyebar biji di hutan tropis, namun populasinya terus mengalami penurunan akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, dan gangguan antropogenik. Informasi mengenai distribusi spasial dan kesesuaian habitat rangkong diperlukan sebagai dasar dalam penyusunan strategi konservasi, khususnya di Resor Gurah, Taman Nasional Gunung Leuser. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik habitat perjumpaan rangkong, menentukan variabel lingkungan yang berkontribusi besar dalam pemodelan MaxEnt, serta menentukan potensi habitat prioritas melalui integrasi hasil pemodelan MaxEnt dengan Kernel Density Estimation (KDE). Data kehadiran diperoleh melalui survei lapangan, kemudian dipadukan dengan berbagai variabel lingkungan yang telah melalui uji korelasi Pearson dan Variance Inflation Factor (VIF). Pemodelan dilakukan menggunakan MaxEnt dengan model 5-fold cross-validation sebagai model terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat didominasi oleh hutan dengan tutupan tajuk rapat, topografi landai hingga sedang, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan hutan dan sungai. Model MaxEnt menunjukkan performa yang sangat baik dengan nilai AUC sebesar 0,991 ± 0,003. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kesesuaian habitat adalah jarak terhadap hutan (49,6%), diikuti jarak terhadap sungai (16,1%), kemiringan lereng (14,9%), dan elevasi (12,4%), sedangkan NDVI, tinggi tegakan, dan tutupan lahan memberikan kontribusi yang lebih rendah. Integrasi peta kesesuaian habitat dan KDE melalui weighted overlay menghasilkan habitat prioritas konservasi seluas 1,65% dari wilayah penelitian. Selain mengidentifikasi habitat prioritas yang telah dimanfaatkan rangkong, model juga menunjukkan beberapa kawasan potensial yang belum memiliki data perjumpaan sehingga dapat dipertimbangkan untuk upaya konservasi lanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif antara survei lapangan, pemodelan distribusi spesies, dan analisis spasial mampu memberikan dasar ilmiah dalam penentuan prioritas konservasi serta mendukung pengelolaan habitat rangkong di Resor Gurah.