ABSTRAK Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menghadirkan intervensi
fisik dan keruangan pada kawasan Stasiun Tegalluar dan Padalarang yang berada
dalam sistem Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dan telah menghadapi
tekanan urbanisasi sejak sebelum KCJB dibangun, sehingga perubahan tutupan
lahan di sekitarnya tidak dapat langsung dinyatakan sebagai akibat tunggal KCJB,
penelitian ini menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan di kedua kawasan
pada tahun 2015, 2020, dan 2025, faktor spasial yang memengaruhi peluang
perubahannya, serta kesesuaian kondisi tutupan lahan eskisting terhadap arahan
RTRW yang berlaku, menggunakan klasifikasi Random Forest melalui Google
Earth Engine, regresi logistik biner untuk faktor pendorong, dan overlay tutupan
lahan terhadap peta pola ruang RTRW untuk kesesuaian ruang. Hasil menunjukkan
bahwa Tegalluar, yang pada 2015 masih didominasi sawah (80,95%) dan
kehilangan 404,92 hektare sawah hingga 2025 disertai pertambahan tanah terbuka
yang signifikan (260,44 hektare), sedangkan Padalarang, yang sejak 2015 telah
lebih berkembang (50,69% sawah, 26,34% terbangun), mengalami pertambahan
lahan terbangun (122,83 hektare) yang hampir sebanding dengan penurunan
sawahnya (119,30 hektare), jarak terhadap lahan terbangun eksisting dan arahan
RTRW konsisten signifikan memengaruhi peluang perubahan pada kedua kawasan
sementara jarak terhadap stasiun dan jalur KCJB tidak signifikan pada keduanya,
dengan pusat pelayanan menjadi faktor khusus di Tegalluar dan kemiringan lereng
di Padalarang, serta Tegalluar memiliki proporsi arahan RTRW belum terealisasi
jauh lebih besar (70,63%) dibandingkan Padalarang (51,81%) dan Padalarang
memiliki keselarasan lebih tinggi (41,25%). Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan
terhadap KCJB bukan faktor spasial yang signifikan secara langsung terhadap
perubahan tutupan lahan di kedua kawasan.
Perpustakaan Digital ITB