digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Dhifa Salsabila Ramadina
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menghadirkan intervensi fisik dan keruangan pada kawasan Stasiun Tegalluar dan Padalarang yang berada dalam sistem Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dan telah menghadapi tekanan urbanisasi sejak sebelum KCJB dibangun, sehingga perubahan tutupan lahan di sekitarnya tidak dapat langsung dinyatakan sebagai akibat tunggal KCJB, penelitian ini menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan di kedua kawasan pada tahun 2015, 2020, dan 2025, faktor spasial yang memengaruhi peluang perubahannya, serta kesesuaian kondisi tutupan lahan eskisting terhadap arahan RTRW yang berlaku, menggunakan klasifikasi Random Forest melalui Google Earth Engine, regresi logistik biner untuk faktor pendorong, dan overlay tutupan lahan terhadap peta pola ruang RTRW untuk kesesuaian ruang. Hasil menunjukkan bahwa Tegalluar, yang pada 2015 masih didominasi sawah (80,95%) dan kehilangan 404,92 hektare sawah hingga 2025 disertai pertambahan tanah terbuka yang signifikan (260,44 hektare), sedangkan Padalarang, yang sejak 2015 telah lebih berkembang (50,69% sawah, 26,34% terbangun), mengalami pertambahan lahan terbangun (122,83 hektare) yang hampir sebanding dengan penurunan sawahnya (119,30 hektare), jarak terhadap lahan terbangun eksisting dan arahan RTRW konsisten signifikan memengaruhi peluang perubahan pada kedua kawasan sementara jarak terhadap stasiun dan jalur KCJB tidak signifikan pada keduanya, dengan pusat pelayanan menjadi faktor khusus di Tegalluar dan kemiringan lereng di Padalarang, serta Tegalluar memiliki proporsi arahan RTRW belum terealisasi jauh lebih besar (70,63%) dibandingkan Padalarang (51,81%) dan Padalarang memiliki keselarasan lebih tinggi (41,25%). Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan terhadap KCJB bukan faktor spasial yang signifikan secara langsung terhadap perubahan tutupan lahan di kedua kawasan.