Adopsi PLTS atap yang semakin cepat di Indonesia menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi PLN. Di Jawa Barat, penetrasi PLTS pelanggan berkembang pesat dan menyebabkan penurunan konsumsi listrik dari jaringan serta meningkatnya kompleksitas operasional. Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan pendapatan PLN dan menyoroti kebutuhan akan inovasi model bisnis yang mampu mengintegrasikan sumber energi terdistribusi (DER) ke dalam operasi dan layanan PLN.
Tesis ini mengeksplorasi bagaimana PLN UID Jawa Barat dapat merespons penetrasi PLTS melalui pengembangan model bisnis dan kerangka implementasi Virtual Power Plant (VPP). Pendekatan penelitian bersifat kualitatif dengan memanfaatkan Business Model Canvas (BMC), penilaian kesiapan VPP berbasis lima tingkat kematangan, wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, analisis dokumen, serta pemodelan dampak pendapatan berbasis skenario.
Hasil penelitian mengidentifikasi sejumlah kesenjangan kesiapan, termasuk keterbatasan visibilitas DER, integrasi AMI–SCADA yang belum optimal, ketiadaan telemetri inverter, serta belum adanya regulasi mengenai aggregator dan demand response. Penelitian ini juga menilai kesiapan pelanggan dan organisasi, serta menekankan pentingnya koordinasi lintas unit dan peningkatan kapabilitas digital.
Tesis ini menghasilkan roadmap implementasi VPP bertahap, dimulai dari pilot teknis di wilayah industri berpenetrasi PLTS tinggi hingga kesiapan prakomersial. Secara keseluruhan, VPP memberikan jalan bagi PLN untuk memitigasi kehilangan pendapatan, meningkatkan fleksibilitas sistem, dan menempatkan PLN sebagai orkestrator energi digital di era transisi energi Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB