Disertasi ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan kritis sistem pengukuran
kinerja (PMS) untuk bekerja dari rumah (WFH) atau bekerja dari mana saja
(WFA) dalam konteks Indonesia. Dengan organisasi di seluruh dunia mengadopsi
WFH/WFA selama pandemi COVID-19, budaya Sistem Manajemen Kinerja (PMS)
saat ini sudah ketinggalan zaman—berakar pada metrik berbasis kehadiran dan
input yang tidak sesuai untuk lingkungan kerja terdistribusi. Studi ini memiliki tiga
tujuan yang saling terkait: (1) menjelaskan mekanisme prosesual yang mendorong
perubahan dalam PMS sebagai akibat dari adopsi WFH/WFA yang dipaksakan;
(2) mengidentifikasi dan memvalidasi secara empiris faktor-faktor keberhasilan
kritis yang menentukan kinerja pekerjaan (JP) dalam lingkungan WFA (yaitu
Dukungan Kepemimpinan untuk Fleksibilitas (LSF), Kepercayaan Organisasi
(OT), Kesiapan Digital (DR), dan Kualitas Desain PMS (PMS-DQ)); dan (3)
mengembangkan Sistem Pengukuran Nilai-Kinerja (V-PMS) yang komprehensif
yang dapat diterapkan pada pengaturan WFH, hibrida, dan kantor tradisional.
Penelitian ini didasarkan pada filosofi pragmatis dan menggunakan pendekatan
metode campuran sekuensial berupa survei kuantitatif dan survei kualitatif
berbasis teori dasar sebagai urutan penelitian yang disebut abduktif-deduktif
induktif (ADI).
Fase abduktif menggunakan metodologi teori dasar dengan menganalisis
wawancara mendalam dengan sebuah perusahaan telekomunikasi. Fase deduktif
menggunakan pendekatan kuantitatif dalam bentuk studi survei lintas sektoral
dengan total sampel 631 responden dari berbagai organisasi di Indonesia yang
telah mengadopsi WFH/WFA. Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil
Parsial (PLS-SEM) dilakukan untuk menganalisis data menggunakan SmartPLS 4,
di mana model pengukurannya adalah Model struktural diuji reliabilitasnya (Cronbach's ? > 0,70, AVE > 0,50, HTMT < 0,90), dan daya penjelasnya (nilai R²
berkisar antara 0,532-0,691, SRMR = 0,053). Untuk menguraikan efek diferensial
dalam model kinerja WFA, kohort generasi (Gen X, Y, Z) ditambahkan sebagai
variabel kontrol. Dari teori dasar 28 wawancara mendalam dengan lima
perusahaan besar di Indonesia seperti telekomunikasi, listrik, manufaktur otomotif,
farmasi, dan perawatan pesawat terbang, fase induktif studi ini mensintesis hasil
dalam kerangka V-PMS dalam sembilan langkah dengan analisis multi-pemangku
kepentingan, identifikasi kesenjangan, deteksi alarm palsu, dan konflik saling
menguntungkan.
Analisis abduktif mengidentifikasi tiga tahapan evolusi PMS yang diwakili oleh
kerangka "Menavigasi Keseimbangan Hibrida". Semua hubungan dikonfirmasi
oleh analisis deduktif; OT adalah Sumber daya relasional fundamental (? = 0,730
untuk LSF, dan ? = 0,405 untuk PMS-DQ); LSF merupakan katalisator penting (?
= 0,539 untuk WFA); DR merupakan penggerak teknologi yang sangat penting (?
= 0,358 untuk PMS-DQ, dan ? = 0,251 untuk JP); dan PMS-DQ merupakan
variabel mediasi utama (? = 0,399 untuk JP, dan ? = 0,230 untuk WFA). Model
mediasi PMS-DQ terbukti menjadi penghubung utama yang menjembatani
kesenjangan antara DR dan peningkatan kinerja nyata (DR ? PMS-DQ ? JP, ?
= 0,142, t = 4,792), dan 36 efek tidak langsung spesifik signifikan, yang
mengkonfirmasi ekosistem yang saling bergantung. Analisis generasi menunjukkan
bahwa terdapat dampak positif yang signifikan dari Generasi Y dan Generasi Z
terhadap WFA, dan Dampak positif langsung yang signifikan dari Generasi X
terhadap JP. Kerangka kerja V-PMS menawarkan proses sembilan tahap: (1)
Analisis Penggerak Eksternal (PESTEL), (2) Analisis Pemangku Kepentingan dan
Persaingan, (3) Strategi Organisasi (Visi, Misi, Nilai), (4) Nilai Tambah bagi
Pemangku Kepentingan, (5) Analisis Kesenjangan dan Alarm Palsu, (6) Resolusi
Konflik Win-Win, (7) Implementasi PMS (Pembobotan menggunakan AHP/ANP,
Target SMART, Inisiatif Proyek), (8) Tingkat Berjenjang (Penyelarasan Job Desk,
Pemetaan Ulang Departemen, Pemetaan Ulang Karyawan, Normalisasi KPI), dan
(9) Evaluasi (Tinjauan Berkala, PICA, Pembinaan dan Umpan Balik). V-PMS telah
membagi KPI menjadi lima pilar yaitu Nilai (landasan budaya), Internal Saat Ini,
Internal Masa Depan, Eksternal Saat Ini, dan Eksternal Masa Depan yang
mencakup kepuasan semua pemangku kepentingan.
Lima kontribusi teoritis ditawarkan oleh penelitian ini: (1) validasi empiris efek
kohort generasi dalam (1) model WFA yang menantang asumsi kebijakan
fleksibilitas universal; (2) integrasi lima faktor pendukung (OT, LSF, DR, PMS
DQ, WFA) ke dalam model empiris terintegrasi; (3) identifikasi PMS-DQ sebagai
mediator penting antara kesiapan digital dan peningkatan kinerja; (4) penerapan
kerangka kerja terintegrasi dalam konteks WFA Indonesia yang masih kurang
diteliti; dan (5) pengembangan kerangka kerja V-PMS sebagai pendekatan
pengukuran kinerja universal untuk pekerjaan tradisional dan jarak jauh. V-PMS
menawarkan pendekatan praktis berbasis bukti untuk penilaian kinerja yang adil,
menyeimbangkan kontrol organisasi dengan otonomi karyawan, untuk membantu
organisasi berhasil menavigasi masa depan pekerjaan di era pasca-pandemi.
Keywords: Sistem Pengukuran Kinerja-Nilai (V-PMS), Bekerja dari Rumah
(WFH), Bekerja dari Mana Saja (WFA), Nilai Tambah Pemangku Kepentingan,
Nilai Organisasi, Kepercayaan Organisasi, Kesiapan Digital, dan Kerja Hibrida.
Perpustakaan Digital ITB