digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia memproduksi sebagian besar kratom (Mitragyna speciosa) dunia, tetapi hanya menangkap sebagian kecil nilai yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai kratom global, karena mengekspor daun mentah sementara pengolahan bernilai tinggi terjadi di luar negeri. Pemberlakuan Permendag 20/2024 yang melarang ekspor daun kratom mentah dan olahan kasar, serta Permendag 21/2024 yang mengatur ekspor kratom olahan melalui instrumen eksportir terdaftar, persetujuan ekspor, dan laporan surveyor, telah menciptakan sekaligus kewajiban dan peluang bagi perusahaan domestik untuk bergerak ke hilir menuju ekstraksi berkemurnian tinggi. Penelitian ini mengkaji apakah hilirisasi tersebut layak dilakukan, dengan mengambil kasus PT MIT, produsen ekstrak mitragynine 50% (Mit50) berskala pilot, sebagai unit analisisnya. Permasalahan utama yang dikaji adalah apakah transisi dari perdagangan daun mentah menuju ekstraksi domestik menciptakan nilai baik bagi perusahaan yang berinvestasi maupun bagi perekonomian nasional, serta implikasi strategis dan kebijakan apa yang menyertainya. Penelitian ini mengintegrasikan dua metode yang saling melengkapi. Analisis Biaya-Manfaat pada tingkat perusahaan mengevaluasi kelayakan finansial dari peningkatan kapasitas produksi Mit50 menjadi 100 kilogram per bulan, dan Analisis Input-Output mengukur dampak makroekonomi dari investasi tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Model finansial disusun berdasarkan data operasional pilot yang telah tervalidasi, mencakup struktur biaya produksi aktual, catatan belanja modal, dan harga transaksi komersial, bukan berdasarkan asumsi sintetis. Tiga skenario yang dibedakan menurut tingkat utilisasi kapasitas steady state sebesar 75%, 85%, dan 93% dievaluasi pada tingkat diskonto 15% yang diperoleh melalui pendekatan build-up biaya modal. Analisis makroekonomi memetakan ekstraksi kratom ke dalam sektor produk farmasi pada Tabel Input Output Indonesia tahun 2020 dan menghitung pengganda Tipe I untuk output, pendapatan, dan nilai tambah, beserta indeks keterkaitan ke belakang dan ke depan. Hasil finansial menunjukkan bahwa investasi ini layak pada ketiga skenario. Pada skenario dasar, proyek menghasilkan nilai sekarang bersih sekitar Rp 11,80 miliar, tingkat pengembalian internal sebesar 37,59% terhadap tingkat acuan 15%, indeks profitabilitas sebesar 2,31, dan periode pengembalian terdiskonto selama 4,88 tahun. Analisis sensitivitas sembilan parameter mengidentifikasi harga jual sebagai pemicu nilai paling material, diikuti oleh biaya variabel dan volume produksi; meski demikian proyek tetap layak hingga tingkat utilisasi kapasitas 44,74% dan harga jual USD 1.410 per kilogram, yang menunjukkan margin keamanan yang lebar. Hasil makroekonomi menunjukkan bahwa sektor farmasi tempat ekstraksi kratom dipetakan berfungsi sebagai sektor penarik permintaan yang kuat, dengan pengganda output sebesar 1,7433 dan indeks keterkaitan ke belakang sebesar 1,0731. Pada skenario dasar steady-state, investasi ini menghasilkan dampak output perekonomian secara keseluruhan sekitar Rp 48,37 miliar, mendukung sekitar sembilan puluh tiga lapangan kerja, dan menyumbang devisa sekitar USD 1,53 juta per tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hilirisasi kratom menjadi ekstrak berkemurnian tinggi bersifat menguntungkan secara privat sekaligus bermanfaat secara ekonomi, sehingga menyelaraskan insentif tingkat perusahaan dengan agenda hilirisasi nasional. Kontribusi utamanya terletak pada upaya menunjukkan, melalui kerangka analitis terintegrasi yang berbasis bukti empiris, bagaimana pergeseran regulasi menuju persyaratan ekspor olahan dapat diterjemahkan menjadi pengembalian privat dan sosial yang terukur. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan yang berinvestasi, basis bukti bagi pembuat kebijakan dalam menyusun agenda hilirisasi, serta metodologi yang dapat