Indonesia memproduksi sebagian besar kratom (Mitragyna speciosa) dunia, tetapi
hanya menangkap sebagian kecil nilai yang dihasilkan di sepanjang rantai nilai
kratom global, karena mengekspor daun mentah sementara pengolahan bernilai
tinggi terjadi di luar negeri. Pemberlakuan Permendag 20/2024 yang melarang
ekspor daun kratom mentah dan olahan kasar, serta Permendag 21/2024 yang
mengatur ekspor kratom olahan melalui instrumen eksportir terdaftar, persetujuan
ekspor, dan laporan surveyor, telah menciptakan sekaligus kewajiban dan peluang
bagi perusahaan domestik untuk bergerak ke hilir menuju ekstraksi berkemurnian
tinggi. Penelitian ini mengkaji apakah hilirisasi tersebut layak dilakukan, dengan
mengambil kasus PT MIT, produsen ekstrak mitragynine 50% (Mit50) berskala
pilot, sebagai unit analisisnya. Permasalahan utama yang dikaji adalah apakah
transisi dari perdagangan daun mentah menuju ekstraksi domestik menciptakan
nilai baik bagi perusahaan yang berinvestasi maupun bagi perekonomian nasional,
serta implikasi strategis dan kebijakan apa yang menyertainya.
Penelitian ini mengintegrasikan dua metode yang saling melengkapi. Analisis
Biaya-Manfaat pada tingkat perusahaan mengevaluasi kelayakan finansial dari
peningkatan kapasitas produksi Mit50 menjadi 100 kilogram per bulan, dan
Analisis Input-Output mengukur dampak makroekonomi dari investasi tersebut
terhadap perekonomian Indonesia. Model finansial disusun berdasarkan data
operasional pilot yang telah tervalidasi, mencakup struktur biaya produksi aktual,
catatan belanja modal, dan harga transaksi komersial, bukan berdasarkan asumsi
sintetis. Tiga skenario yang dibedakan menurut tingkat utilisasi kapasitas steady
state sebesar 75%, 85%, dan 93% dievaluasi pada tingkat diskonto 15% yang
diperoleh melalui pendekatan build-up biaya modal. Analisis makroekonomi
memetakan ekstraksi kratom ke dalam sektor produk farmasi pada Tabel Input
Output Indonesia tahun 2020 dan menghitung pengganda Tipe I untuk output,
pendapatan, dan nilai tambah, beserta indeks keterkaitan ke belakang dan ke
depan.
Hasil finansial menunjukkan bahwa investasi ini layak pada ketiga skenario. Pada
skenario dasar, proyek menghasilkan nilai sekarang bersih sekitar Rp 11,80 miliar,
tingkat pengembalian internal sebesar 37,59% terhadap tingkat acuan 15%, indeks
profitabilitas sebesar 2,31, dan periode pengembalian terdiskonto selama 4,88
tahun. Analisis sensitivitas sembilan parameter mengidentifikasi harga jual
sebagai pemicu nilai paling material, diikuti oleh biaya variabel dan volume
produksi; meski demikian proyek tetap layak hingga tingkat utilisasi kapasitas
44,74% dan harga jual USD 1.410 per kilogram, yang menunjukkan margin
keamanan yang lebar. Hasil makroekonomi menunjukkan bahwa sektor farmasi
tempat ekstraksi kratom dipetakan berfungsi sebagai sektor penarik permintaan
yang kuat, dengan pengganda output sebesar 1,7433 dan indeks keterkaitan ke
belakang sebesar 1,0731. Pada skenario dasar steady-state, investasi ini
menghasilkan dampak output perekonomian secara keseluruhan sekitar Rp 48,37
miliar, mendukung sekitar sembilan puluh tiga lapangan kerja, dan menyumbang
devisa sekitar USD 1,53 juta per tahun.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa hilirisasi kratom menjadi ekstrak
berkemurnian tinggi bersifat menguntungkan secara privat sekaligus bermanfaat
secara ekonomi, sehingga menyelaraskan insentif tingkat perusahaan dengan
agenda hilirisasi nasional. Kontribusi utamanya terletak pada upaya menunjukkan,
melalui kerangka analitis terintegrasi yang berbasis bukti empiris, bagaimana
pergeseran regulasi menuju persyaratan ekspor olahan dapat diterjemahkan
menjadi pengembalian privat dan sosial yang terukur. Temuan ini memberikan
panduan praktis bagi perusahaan yang berinvestasi, basis bukti bagi pembuat
kebijakan dalam menyusun agenda hilirisasi, serta metodologi yang dapat
Perpustakaan Digital ITB