Penelitian ini menguji apakah pesatnya pertumbuhan pembayaran digital melalui
Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) memengaruhi efektivitas
transmisi kebijakan moneter di Indonesia. Dengan menggunakan data bulanan
selama periode 2020-2025 dan model Structural Vector Autoregression (SVAR),
penelitian ini menganalisis interaksi dinamis antara nilai transaksi QRIS dan lima
variabel makroekonomi: jumlah uang beredar dalam arti luas (M2), kredit sektor
swasta, indeks harga konsumen, indeks penjualan riil sebagai proksi output riil,
dan BI Rate. Hasil analisis impulse response menunjukkan bahwa guncangan
positif pada transaksi QRIS berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah
uang beredar dan kredit sektor swasta sepanjang horizon, serta berpengaruh
positif terhadap tingkat harga yang signifikan dalam jangka pendek dan jangka
panjang namun sempat melemah pada periode pertengahan. Pengaruh terhadap
output riil lebih lemah, hanya muncul pada jangka sangat pendek dan kembali
muncul secara marginal sekitar bulan kesebelas hingga ketiga belas, yang
mengindikasikan jalur tidak langsung melalui kredit. Respons BI Rate terhadap
guncangan QRIS maupun respons QRIS terhadap guncangan BI Rate keduanya
negatif tetapi tidak signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa
QRIS memperkuat agregat moneter dan kredit tanpa melemahkan transmisi
kebijakan moneter: selama bank sentral tetap mengendalikan suku bunga
kebijakan, digitalisasi pembayaran tidak menggerus kendali moneter.
Keywords: digitalisasi pembayaran, jumlah uang beredar, QRIS, SVAR, transmisi
kebijakan moneter
Perpustakaan Digital ITB