ABSTRAK
Analisis Faktor Keberlanjutan Pengelolaan Sampah di Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kabupaten Sleman
Menggunakan Pendekatan Multidimensional Scaling (MDS-RAPS)
Oleh
Zahra Yulliandra
NIM: 25725029
(Program Studi Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi)
Penutupan permanen Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan akibat kondisi
overcapacity dan sistem pengelolaan open dumping menimbulkan tantangan besar
bagi pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman. Sebagai respons, Pemerintah
Kabupaten Sleman mengembangkan tiga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu
(TPST) yang telah beroperasi dengan sistem pengolahan sampah menjadi RefuseDerived Fuel (RDF). Namun, pengelolaan ketiga TPST masih menghadapi berbagai
kendala, antara lain kapasitas pengolahan yang belum optimal, masih adanya residu,
serta belum maksimalnya pencapaian target penanganan dan pengurangan sampah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi eksisting, faktor-faktor yang
memengaruhi keberlanjutan, status keberlanjutan, serta strategi pengembangan
pengelolaan sampah pada TPST Tamanmartani, TPST Donokerto, dan TPST
Sendangsari. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Multidimensional ScalingRapid Appraisal for Sustainability (MDS-RAPS) dengan meninjau lima aspek, yaitu
teknis operasional, kelembagaan, pembiayaan, regulasi, dan sosial/partisipasi
masyarakat. Data diperoleh melalui kuesioner kepada masyarakat, pengelola TPST,
serta instansi terkait. Hasil MDS-RAPS kemudian digunakan sebagai dasar
penyusunan strategi melalui analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and
Threats (SWOT). Hasil analisis menunjukkan pada aspek teknis operasional TPST
Donokerto dan Sendangsari dinilai cukup berkelanjutan serta TPST Tamanmartani
kurang berkelanjutan dengan indeks (48, 92) faktor paling berpengaruh yaitu efisiensi
teknologi pengolahan; pada aspek kelembagaan ketiga TPST dinilai cukup
berkelanjutan dengan faktor paling berpengaruh yaitu tugas dan tanggungjawab
pengelola; pada aspek pembiayaan ketiga TPST dinilai cukup berkelanjutan dengan
faktor paling berpengaruh adalah kesesuaian gaji pekerja TPST; pada aspek regulasi
ketiga TPST dinilai cukup berkelanjutan dengan faktor paling berpengaruh kepatuhan
terhadap peraturan retribusi sampah; dan pada aspek partisipasi masyarakat TPST
Tamanmartani dan Donokerto dinilai cukup berkelanjutan serta TPST Sendangsari
kurang berkelanjutan dengan indeks (46,41) faktor yang paling berpengaruh adalah
upaya masyarkat dalam menjaga lingkungan. Hasil analisis SWOT menunjukkan
posisi pada Kuadran I, dengan nilai Interaction Matrix terbesar adalah Strengths
Opportunities (SO) sehingga strategi keberlanjutan yang direkomendasikan adalah
strategi agresif dengan memanfaatkan kekuatan untuk mengoptimalkan peluang guna
mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Sleman.
Perpustakaan Digital ITB