Sistem pengelolaan perikanan tangkap di Indonesia yang masih didominasi rezim open access berpotensi mendorong peningkatan upaya penangkapan secara tidak terkendali sehingga menyebabkan overfishing dan disipasi rente ekonomi. Kondisi ini mengancam keberlanjutan sumber daya sekaligus menurunkan manfaat ekonomi bagi nelayan dan kelembagaan perikanan. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu wilayah penghasil udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang dogol (Metapenaeus monoceros), dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari sebagai koperasi nelayan terbesar yang memiliki peran penting dalam rantai nilai perikanan. Namun, model bisnis koperasi masih berorientasi pada penjualan hasil tangkapan segar dan belum mempertimbangkan kondisi bioekonomi sumber daya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan analisis bioekonomi dengan pengembangan model bisnis koperasi.
Penelitian ini bertujuan menentukan dan membandingkan kondisi optimum produksi dan upaya penangkapan pada Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY) untuk udang jerbung dan udang dogol, mengidentifikasi tingkat pemanfaatan aktual, menganalisis model bisnis KUD Minasari menggunakan Business Model Canvas (BMC), serta merumuskan strategi pengembangan bisnis melalui Blue Ocean Strategy (BOS). Analisis bioekonomi dilakukan menggunakan model Gordon–Schaefer, sedangkan pengembangan model bisnis dilakukan melalui BMC, analisis SWOT, dan Four Action Framework pada BOS berdasarkan data primer hasil wawancara serta data sekunder perikanan Kabupaten Pangandaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang dogol memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan udang jerbung. Pada kondisi MSY, produksi optimum udang dogol mencapai 101.957 kg dengan upaya 7.170 trip, sedangkan udang jerbung sebesar 46.733 kg dengan 3.352 trip. Pada kondisi MEY, produksi optimum udang dogol sebesar 98.638 kg dengan 5.480 trip, sedangkan udang jerbung sebesar 46.439 kg dengan 2.989 trip. Meskipun demikian, rente ekonomi optimum udang
jerbung mencapai Rp5,88 miliar, lebih tinggi dibandingkan udang dogol sebesar Rp2,96 miliar. Tingkat pemanfaatan menunjukkan bahwa udang jerbung telah mengalami overfishing berbasis upaya, sedangkan udang dogol berada pada kondisi fully exploited. Hasil ini menunjukkan bahwa strategi pengelolaan kedua komoditas perlu dibedakan.
Analisis model bisnis menunjukkan bahwa perbedaan utama kedua komoditas terdapat pada elemen value propositions, revenue streams, dan cost structure. Udang jerbung berperan sebagai value driver karena memberikan nilai ekonomi tinggi, sedangkan udang dogol berperan sebagai volume driver karena memiliki produksi yang lebih besar dan stabil. Penelitian juga mengidentifikasi foregone rent sebesar Rp1,54 miliar per tahun pada udang jerbung dan Rp0,23 miliar per tahun pada udang dogol. Strategi pengembangan bisnis diarahkan pada transformasi dari orientasi berbasis volume menuju penciptaan nilai melalui peningkatan mutu produk, penguatan cold chain, perluasan akses pasar premium untuk udang jerbung, serta pengembangan produk olahan bernilai tambah pada udang dogol tanpa meningkatkan tekanan terhadap sumber daya. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi analisis bioekonomi dengan Business Model Canvas dan Blue Ocean Strategy dapat menjadi dasar penyusunan strategi bisnis koperasi yang mendukung keberlanjutan perikanan.
Perpustakaan Digital ITB